PENDAMPING
DI SETIAP MOMEN HIDUPKU
Mungkin jarang seorang anak
perempuan mengungkapkan ini terhadap ayahnya karena seorang anak akan cenderung
lebih dekat dengan sosok ibu. Berbeda denganku yang mulai memahami ayah ku yang
ternyata lebih mendampingiku saat-saat teristimewa dalam hidupku.
Beliau, ayah yang penuh dengan
segudang petuah-petuah lama yang begitu membosankan jika didengarkan setiap
saat. Setiap kali aku harus berangkat ke sekolah, beliau akan selalu standby di
depan pagar sambil memanaskan motornya. Menunggu aku yang tengah bersiap-siap
untuk berangkat sekolah. Dalam perjalanan ke sekolah, tiada detik tanpa beliau
berkata-kata. Terkadang aku berusaha tidak mendengar nasehat-nasehat beliau
yang membosankan itu. Aku lebih memilih membaca novel atau buku pelajaranku di
belakang punggung beliau berharap waktu cepat mengantarkanku ke tujuanku,
sekolah.
Rasanya hatiku lega saat sampai
sekolah. Tapi, terkadang jika aku melakukan kesalahan sekecil apapun itu, aku
pasti bakalan dinasehati bermenit-menit bahkan mungkin berjam-jam jika stok
kata-kata beliau masih banyak. Tiap malam, ku lewati dengan ceramah dari beliau.
Walaupun di ruang televisi, yang seharusnya aku menonton televisi tapi tetap
saja telingaku mau ga mau mendengarkan nasehat-nasehat beliau. Aku tidak pernah
melawan kata-katanya, karena beliau tidak akan mengizinkan hal itu terjadi. Aku
hanya bisa terpaksa mendengarkannya sampai ia puas berkata-kata malam itu.
Namun terkadang, aku bisa menghentikan nasehat yang terucap dari bibir beliau
dengan mengatakan aku harus mengerjakan PR ku.
Beliau adalah sosok ayah yang sangat
sangat mementingkan pendidikan. Beliau akan mengusahakan apapun untuk
pendidikan anaknnya. Aku tidak pernah merasa kekurangan suatu apapun dengan
pendidikanku. Aku merasa selalu cukup dengan kebutuhan sekolahku yang selalu
terpenuhi oleh beliau. Beliau sangat ingin membuat anaknya nyaman belajar
dengan tidak menunda-nunda kebutuhan sekolah anaknya. Oleh karena itu beliau
selalu memasang target tinggi untuk nilai rapor anak-anaknya. Beliau tidak
selera melihat nilai 7 di kolom rapor untuk pelajaran apapun itu. Beliau hanya
ingin angka 8 dan 9 di rapor. Jika aku mendapat nilai di bawah 8, malamnya akan
diomelin dengan nasehatan yang lebih panjang dari malam-malam sebelumnya.
Oleh karena itu, dalam masa kecil
hingga remajaku, aku membenci hari pengambilan rapor. Itu benar-benar membuatku
gugup. Aku tidak merasa takut dengan omelan malam beliau, aku hanya takut
mengecewakan harapan beliau yang selalu memasang target tinggi untuk nilai
rapor anaknya. Aku ingin sekali melihat beliau bangga padaku dengan nilai yang
ku hasilkan.
Namun, saat aku mendapat nilai
tinggi sekalipun bahkan mendapat juara kelaspun, beliau hanya berekspresi biasa
aja. Karena saat itu aku hanya mendapatkan juara 2 di kelas. Beliau hanya mengatakan
“tingkatkan lagi”, tanpa memujiku. Rasanya meleleh kegembiraanku saat
menghadiahkan rapor itu. Bagi beliau, belum waktunya untuk memuji anak
perempuan satu-satunya ini.
Ketidakpuasan beliaulah yang selalu
membuatku terus giat belajar. Hanya ingin membuktikan pada beliau aku mampu
membuatnya bangga dan memujiku. Itulah yang menjadi alasanku rajin belajar
selama masa 12 tahun sekolahku.
Aku selalu menjadi salah satu anak
yang cukup diperhitungkan di kelas. Aku pernah menjadi salah satu perwakilan
sekolah dalam olympiade matematika beberapa kali, bahkan pernah diminta ikut
olympiade fisika juga, namun karena waktunya sama dengan olympiade matematika,
aku menolak kesempatan yang diberikan guru fisikaku. Aku juga pernah diutus
sekolah dalam lomba membaca puisi. Aku menjadi instruktur senam selama 2 tahun.
Aku pernah menjadi backing vocal, penari latar, dan pembaca puisi di gereja
saat natal. Namun, kesemua yang menurutku adalah prestasi itu tidak
membanggakan beliau. Aku tidak pesimis, aku tidak mengambil sisi negatifnya.
Aku malah terus berusaha menunjukkan pada beliau aku mampu membuatnya bangga
padaku.
Walaupun beliau cukup menjengkelkan
bagiku dengan nasehat-nasehatnya, namun beliau selalu ada menemaniku saat-saat
hari terpentingku. Beliau akan siap sedia mengantarkan ku untuk daftar sekolah,
dari SD, SMP, SMA dan Perguruan Tinggi. Beliaulah yang mengantarkanku dan
menyiapkan segala yang aku butuhkan untuk sekolah selanjutnya karena yah aku
bilang tadi, beliau sangat peduli dengan pendidikanku.
Beliau juga rela bangun pagi-pagi
buta hanya untuk mengantarku OSPEK atau kegiatan sekolah dan kampus lainnya.
Beliau juga rela menungguku seharian saat aku mengikuti olympiade matematika
dan lomba puisi. Selalu, beliau akan bertanya “bagaimana ?” dan aku akan
menjawabnya “entahlah, pa”.
Sampai aku dewasa, aku kuliah di
perguruan tinggi di kota ku. Beliau jarang bahkan tidak pernah lagi menasehati
bahkan mengomeliku padahal aku sering pulang malam, yah karena memang kuliah
dan praktikumku sampai malam hari. Beliau sangat mengkhawatirkanku. Setiap
magrib dan aku belum pulang, beliau akan menelfon atau sms bertanya dimana
keberadaanku. Setiap aku pulang kampus magrib atau hampir jam 8 malam, beliau
akan standby di depan pagar rumah seolah-olah beliau sudah lama menungguku. Aku
selalu disambut dengan tangannya yang membukakan pagar rumah buatku memasukkan
motor. Hal itu masih terus di lakukannya sampai sekarang jika aku pulang malam.
Untuk pertama kalinya beliau
menunjukkan kebanggaannya padaku karena aku mendapatkan ipk yang tinggi, aku
pernah mendapatkan nilai A di semua mata kuliah yang ku ambil di semester itu.
Beliau semakin bangga lagi padaku sejak aku memperoleh beasiswa yang membiayai
seluruh kuliahku. Aku tidak pernah meminta sepeser uangpun pada beliau dan mama
sejak aku memperoleh beasiswa itu. Aku membiayai kuliahku dengan prestasiku
sendiri. Beliau semakin bangga lagi padaku karena aku mampu membagi waktu
kuliahku dengan bekerja sebagai pengajar di sebuah bimbel.
Akhirnya aku melihat wajah beliau
yang bangga padaku. Wajah yang bertahun-tahun ku nantikan menerima dengan
bangga semua yang ku lakukan. Beliau tidak segan-segan lagi memuji ku. Terkadang
aku merasa asing dengan pujian beliau tapi aku cukup dewasa mengartikan sikap
beliau yang dulu hingga sekarang. Beliau hanya ingin mendidikku dari kecil
untuk tidak cepat merasa puas akan apa yang ku peroleh. Beliau tidak ingin
memujiku agar aku tidak besar kepala dan sombong. Aku mengerti saatku menginjak
dewasa sekarang ini.
Di setiap hari penting dalam
hidupku, beliau lah yang menemani. Di saat pendaftaran sekolah dan kuliah,
pengambilan rapor, menghadapi olympiade dan lomba, acara-acara di sekolah atau
luar sekolah, acara natal yang diselenggarakan sekolah, dan ke bandara untuk
pergi gathering beasiswaku. Beliaulah yang selalu mendampingi dan
mengantarkanku.
Hingga nanti saat aku wisuda, jika
aku berkesempatan didampingi oleh salah satu orang tua untuk memindahkan tali
togaku, yang ku inginkan adalah beliau.
Dan aku berharap untuk terakhir
kalinya jika masih diberi umur, aku ingin beliau mendampingiku dan mengantarkan
aku pada pria yang telah berdiri siap di altar pernikahanku. Amiin
Makasih
papa udah mendampingi kakak dari kecil hingga saat ini. Love u
Tidak ada komentar:
Posting Komentar