Jumat, 06 September 2013

sebuah penantian panjang


SEBUAH PENANTIAN PANJANG

By : Irma Natalina Malau

            Ku melirik sesosok pria tinggi berkulit putih yang sedang berjalan menuju ke arah tempatku duduk. Dia melayangkan matanya pada pena yang masih bertengger di jemariku dan buku penuh tulisan warna-warni ku. Istirahat yang seharusnya aku nikmati untuk mengobrol dan bercanda dengan teman-teman sekelasku malah aku habiskan dengan buku dan pena warna-warni ku. Saat ku sadari dia mulai membaca puisi yang ku tulis, terkesiap ku tutup bukuku dan bergegas menyimpannya dalam laci mejaku. Tersentak melihatku yang bertingkah gugup, membuatnya bingung akan sikap mendadakku.
            Ia menghampiriku hanya sekedar meminjam buku catatan fisikaku. Sudah ku duga. Aku adalah tempatnya untuk mendapatkan catatan dari setiap pelajaran di sekolah, karena aku salah satu siswa yang rajin sekali mencatat dengan detail setiap penjelasan guru yang hadir. Seringnya ia meminjam catatanku, membuatku harus menulis dengan rapi dan mudah dimengerti olehnya. Aku senang dia meminjam setiap buku catatanku.
            Dia adalah salah satu pria terpintar di kelasku. Pola pikir dan nalarnya yang luas membuatnya mudah memecahkan soal matematika rumit sekalipun. Setiap kali aku melihatnya mengerjakan soal matematika yang sulit di papan tulis, maka bertambah rasa kagumku padanya. Alasanku menyukainya bukan karena dia siswa yang berprestasi di sekolah, tapi pola pikirnya yang maju dan terkadang memotivasi hidupku karena pemikiran-pemikirannya yang hanya tertuju pada masa depan cerah.
            Siang itu, guru yang seharusnya mengajar fisika berhalangan hadir. Jadi kami sekelas hanya disuruh mengerjakan soal-soal dari buku cetak. Dia yang duduk di belakangku memanggilku dan bertanya tentang soal fisika yang tidak di mengertinya. Aku sangat mahir mengerjakan soal fisika. Aku menjelaskan langkah demi langkah pengerjaan soal yang tidak dipahaminya itu. Dia begitu cerewet bertanya tentang penjelasanku sampai tiba-tiba dia bertanya akan cita-citaku.
            Aku hanya terdiam akan pertanyaanya yang melantur itu. Dengan tidak berfikir panjang lagi, aku mengatakan “pokoknya aku akan menjadi orang yang terkenal”. Mendengar ucapanku itu, dia menantangku untuk membuktikannya. Aku tersentak seolah-olah menggali lubang kuburku sendiri. Kami menyepakati 1 januari 2015 sebagai hari penentuan keberhasilanku di masa depan. Jika aku berhasil menjadi orang yang terkenal, maka dia akan mengabulkan semua keinginannku, dan bila aku tidak terkenal hingga tanggal itu, maka dia akan meminta apapun yang dia inginkan dariku.
            Aku jadi begitu bersemangat akan janji itu karena janji itu akan mempertemukan aku dan dia suatu saat nanti ketika kami telah dewasa. Namun, haripun berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan. Ku tahu dia menyukai teman sekelasku. Teman terdekatku di kelas. Hatiku runtuh, air mataku pecah disetiap malamku. Pedihnya hati yang terluka hanya bisa kuungkapkan lewat puisi-puisi yang kutulis dalam bukuku. 
            Aku menjadi asing baginya. Menjauhkan diri setiap kali harus berhadapan dengannya. Tidak berbicara sepatah katapun padanya sampai 2 minggu lamanya. Hatiku kecewa padanya. Aku pikir dia memiliki perasaan yang sama terhadapku, karena hampir setiap malam kami SMS-an dan bercerita saat jam istirahat. Kami selalu berbagi buku terbaru, dan selalu menceritakan masa depan seperti apa yang kami inginkan. Sampai aku menyangka dia membuat tanggal spesial itu karena dia ingin bertemu denganku saat dewasa. Ternyata itu hanya tanggal biasa untuknya.
            Ku katakan padanya saat jam istirahat sekolah bahwa 1 januari 2015 yang telah menjadi kesepatakan itu dibatalkan. Dia hanya diam dan mengatakan “terserah padamu”. Hatiku ciut mendengar ucapan yang disampaikannya dengan begitu santai. Tumpah air mata di hati ini melihat ketidakpeduliannya. Namun, kulihat dia terus memperhatikanku sepanjang siang itu.
            Sejak peristiwa siang itu, kami memang tidak pernah sekalipun berbicara sepatah katapun. Tidak ada yang memulai pembicaraan. Diam menjadi caraku berhadapan dengannya, begitu pula dengannya. Ku melihat matanya yang terus memandangku penuh rindu. Aku mengerti arti sorotan mata itu. Gengsi mengalahkan rasa rendah diriku untuk memulai pembicaraan dengannya.
            Hari kelulusanpun tiba. Aku mencari-carinya dari keramaian siswa SMA yang berdesakan melihat papan mading. Ku melihatnya sedang berbicara dengan teman- temannya dari kejauhan. Tatapanku yang lama ke arahnya terbalaskan. Dia melihatku juga dari kejauhan. Hati tetap enggan menghampirinya untuk meminta tandatangan di baju putih abu-abu ku. Hanya beberapa detik ku melihatnya, dia pergi berlalu. Ku hanya bisa melihat punggungnya yang terus melangkah keluar gerbang sekolah. Dia pergi. Itu kali terakhir ku melihatnya, dan kali terakhir dia melihatku.
            Bulan berganti bulan. Tetap tidak bisa ku hapuskan dia dari hati dan pikiranku. Dia dan kenangan yang ditinggalkannya masih terus berputar jelas di otak ini. Sesekali ku menangis akan penyesalan yang pernah ku buat di masa putih abu-abu itu. Terbersit pertanyaan mengapa aku tidak menanyakan langsung padanya tentang wanita yang disukainya itu, dan juga bertanya apakah dia pernah memiliki rasa padaku saat itu. Penyesalan itu terus menjadi teman setiaku menjalani tahun ke tahun.
            Tidak pernah ada kabar darinya selama kami sama-sama menjadi mahasiswa. Yang aku tahu, dia kuliah di PTN di Bandung, sedangkan aku masih tetap berdomisili di kota kelahiranku, Pekanbaru. Namun, terus ku nantikan dia di setiap reunian sekolah, tapi dia tidak pernah hadir. Aku merasa kami memang tidak berjodoh. Di setiap aku hadir reuni, dia tidak hadir dan sebaliknya. Tidak pernah ada kesempatan kami untuk bertemu.
            Di tahun ke empat ku kuliah, aku berkesempatan liburan bersama teman-teman kampusku ke Bogor. Itu menjadi kali ke dua ku dan teman-temanku pergi. Setiap melewati setiap lantai keramik bandara Sultan Syarif Kasim, hatiku bergetar. Bersama teman-teman, ku memasuki area waiting room. Ku melewati petugas bandara dengan perasaan ga karuan. Aku tidak mengerti perasaan itu pertanda apa.
            Ku memilih kursi menghadap lateral. Sedetik, dua detik, hingga semenit hatiku masih bergejolak tidak karuan. Ku alihkan pandanganku langsung tertuju pada pria di seberang ku yang telah memandangiku sedari tadi. Pria yang telah empat tahun tidak pernah ku lihat. Hatiku melambung tinggi, bahagia tak terbendungkan lagi. Dia memanggilku. Ku datangi dia penuh senyuman dan jabatan tangan. Ku bahagia. Banyak hal yang kami ceritakan tanpa menyinggung sedikitpun masa lalu perkelahian kami. Aku memandangnya, dan dia memandangku.
            Penuh tanya di hatiku. Ingin tahu apakah telah ada wanita yang mengisi hatinya selama 4 tahun ini. Tapi kuurungkan rasa penasaranku. Ku menikmati detik tiap detik ku saat bersamanya di bandara itu. Rasa senang itu kian bertambah saat ku tahu kami memiliki penerbangan yang sama dengan tujuan yang sama pula. Namun, ku harus meninggalkannya untuk bergabung dengan rombonganku.
            Ku berharap dalam hati masih dapat melihatnya di pesawat sampai bandara Soekarno-Hatta nanti. Jika ku bisa memaksa waktu berputar cepat, aku akan melakukannya demi melihatnya lagi di bandara tujuan. Satu setengah jam cukup menyita rasa inginku. Setibanya di bandara, ku tidak melihatnya sama sekali. Hatiku sedih, pupus harapanku untuk meminta nomor telefonnya.
            Mataku terus melalang buana mencari sosok pria tinggi berkulit putih itu, namun nihil yang ku dapat. Ternyata penantianku masih panjang untuknya. Aku akan terus menunggunya sampai dua tahun lagi, di 1 Januari 2015.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar