SEBUAH
PENANTIAN PANJANG
By :
Irma Natalina Malau
Ku melirik sesosok pria tinggi berkulit
putih yang sedang berjalan menuju ke arah tempatku duduk. Dia melayangkan
matanya pada pena yang masih bertengger di jemariku dan buku penuh tulisan
warna-warni ku. Istirahat yang seharusnya aku nikmati untuk mengobrol dan
bercanda dengan teman-teman sekelasku malah aku habiskan dengan buku dan pena
warna-warni ku. Saat ku sadari dia mulai membaca puisi yang ku tulis, terkesiap
ku tutup bukuku dan bergegas menyimpannya dalam laci mejaku. Tersentak
melihatku yang bertingkah gugup, membuatnya bingung akan sikap mendadakku.
Ia menghampiriku hanya sekedar
meminjam buku catatan fisikaku. Sudah ku duga. Aku adalah tempatnya untuk
mendapatkan catatan dari setiap pelajaran di sekolah, karena aku salah satu
siswa yang rajin sekali mencatat dengan detail setiap penjelasan guru yang
hadir. Seringnya ia meminjam catatanku, membuatku harus menulis dengan rapi dan
mudah dimengerti olehnya. Aku senang dia meminjam setiap buku catatanku.
Dia adalah salah satu pria terpintar
di kelasku. Pola pikir dan nalarnya yang luas membuatnya mudah memecahkan soal
matematika rumit sekalipun. Setiap kali aku melihatnya mengerjakan soal
matematika yang sulit di papan tulis, maka bertambah rasa kagumku padanya.
Alasanku menyukainya bukan karena dia siswa yang berprestasi di sekolah, tapi
pola pikirnya yang maju dan terkadang memotivasi hidupku karena
pemikiran-pemikirannya yang hanya tertuju pada masa depan cerah.
Siang itu, guru yang seharusnya
mengajar fisika berhalangan hadir. Jadi kami sekelas hanya disuruh mengerjakan
soal-soal dari buku cetak. Dia yang duduk di belakangku memanggilku dan
bertanya tentang soal fisika yang tidak di mengertinya. Aku sangat mahir
mengerjakan soal fisika. Aku menjelaskan langkah demi langkah pengerjaan soal
yang tidak dipahaminya itu. Dia begitu cerewet bertanya tentang penjelasanku
sampai tiba-tiba dia bertanya akan cita-citaku.
Aku hanya terdiam akan pertanyaanya
yang melantur itu. Dengan tidak berfikir panjang lagi, aku mengatakan “pokoknya
aku akan menjadi orang yang terkenal”. Mendengar ucapanku itu, dia menantangku
untuk membuktikannya. Aku tersentak seolah-olah menggali lubang kuburku
sendiri. Kami menyepakati 1 januari 2015 sebagai hari penentuan keberhasilanku
di masa depan. Jika aku berhasil menjadi orang yang terkenal, maka dia akan
mengabulkan semua keinginannku, dan bila aku tidak terkenal hingga tanggal itu,
maka dia akan meminta apapun yang dia inginkan dariku.
Aku jadi begitu bersemangat akan
janji itu karena janji itu akan mempertemukan aku dan dia suatu saat nanti
ketika kami telah dewasa. Namun, haripun berganti hari, minggu berganti minggu,
bulan berganti bulan. Ku tahu dia menyukai teman sekelasku. Teman terdekatku di
kelas. Hatiku runtuh, air mataku pecah disetiap malamku. Pedihnya hati yang
terluka hanya bisa kuungkapkan lewat puisi-puisi yang kutulis dalam bukuku.
Aku menjadi asing baginya.
Menjauhkan diri setiap kali harus berhadapan dengannya. Tidak berbicara sepatah
katapun padanya sampai 2 minggu lamanya. Hatiku kecewa padanya. Aku pikir dia
memiliki perasaan yang sama terhadapku, karena hampir setiap malam kami SMS-an
dan bercerita saat jam istirahat. Kami selalu berbagi buku terbaru, dan selalu
menceritakan masa depan seperti apa yang kami inginkan. Sampai aku menyangka
dia membuat tanggal spesial itu karena dia ingin bertemu denganku saat dewasa.
Ternyata itu hanya tanggal biasa untuknya.
Ku katakan padanya saat jam
istirahat sekolah bahwa 1 januari 2015 yang telah menjadi kesepatakan itu
dibatalkan. Dia hanya diam dan mengatakan “terserah padamu”. Hatiku ciut
mendengar ucapan yang disampaikannya dengan begitu santai. Tumpah air mata di
hati ini melihat ketidakpeduliannya. Namun, kulihat dia terus memperhatikanku
sepanjang siang itu.
Sejak peristiwa siang itu, kami
memang tidak pernah sekalipun berbicara sepatah katapun. Tidak ada yang memulai
pembicaraan. Diam menjadi caraku berhadapan dengannya, begitu pula dengannya.
Ku melihat matanya yang terus memandangku penuh rindu. Aku mengerti arti
sorotan mata itu. Gengsi mengalahkan rasa rendah diriku untuk memulai
pembicaraan dengannya.
Hari kelulusanpun tiba. Aku
mencari-carinya dari keramaian siswa SMA yang berdesakan melihat papan mading.
Ku melihatnya sedang berbicara dengan teman- temannya dari kejauhan. Tatapanku
yang lama ke arahnya terbalaskan. Dia melihatku juga dari kejauhan. Hati tetap
enggan menghampirinya untuk meminta tandatangan di baju putih abu-abu ku. Hanya
beberapa detik ku melihatnya, dia pergi berlalu. Ku hanya bisa melihat
punggungnya yang terus melangkah keluar gerbang sekolah. Dia pergi. Itu kali
terakhir ku melihatnya, dan kali terakhir dia melihatku.
Bulan berganti bulan. Tetap tidak
bisa ku hapuskan dia dari hati dan pikiranku. Dia dan kenangan yang
ditinggalkannya masih terus berputar jelas di otak ini. Sesekali ku menangis
akan penyesalan yang pernah ku buat di masa putih abu-abu itu. Terbersit
pertanyaan mengapa aku tidak menanyakan langsung padanya tentang wanita yang
disukainya itu, dan juga bertanya apakah dia pernah memiliki rasa padaku saat
itu. Penyesalan itu terus menjadi teman setiaku menjalani tahun ke tahun.
Tidak pernah ada kabar darinya
selama kami sama-sama menjadi mahasiswa. Yang aku tahu, dia kuliah di PTN di
Bandung, sedangkan aku masih tetap berdomisili di kota kelahiranku, Pekanbaru.
Namun, terus ku nantikan dia di setiap reunian sekolah, tapi dia tidak pernah
hadir. Aku merasa kami memang tidak berjodoh. Di setiap aku hadir reuni, dia
tidak hadir dan sebaliknya. Tidak pernah ada kesempatan kami untuk bertemu.
Di tahun ke empat ku kuliah, aku
berkesempatan liburan bersama teman-teman kampusku ke Bogor. Itu menjadi kali
ke dua ku dan teman-temanku pergi. Setiap melewati setiap lantai keramik
bandara Sultan Syarif Kasim, hatiku bergetar. Bersama teman-teman, ku memasuki
area waiting room. Ku melewati
petugas bandara dengan perasaan ga karuan. Aku tidak mengerti perasaan itu
pertanda apa.
Ku memilih kursi menghadap lateral.
Sedetik, dua detik, hingga semenit hatiku masih bergejolak tidak karuan. Ku
alihkan pandanganku langsung tertuju pada pria di seberang ku yang telah
memandangiku sedari tadi. Pria yang telah empat tahun tidak pernah ku lihat.
Hatiku melambung tinggi, bahagia tak terbendungkan lagi. Dia memanggilku. Ku datangi
dia penuh senyuman dan jabatan tangan. Ku bahagia. Banyak hal yang kami
ceritakan tanpa menyinggung sedikitpun masa lalu perkelahian kami. Aku
memandangnya, dan dia memandangku.
Penuh tanya di hatiku. Ingin tahu
apakah telah ada wanita yang mengisi hatinya selama 4 tahun ini. Tapi
kuurungkan rasa penasaranku. Ku menikmati detik tiap detik ku saat bersamanya
di bandara itu. Rasa senang itu kian bertambah saat ku tahu kami memiliki
penerbangan yang sama dengan tujuan yang sama pula. Namun, ku harus meninggalkannya
untuk bergabung dengan rombonganku.
Ku berharap dalam hati masih dapat
melihatnya di pesawat sampai bandara Soekarno-Hatta nanti. Jika ku bisa memaksa
waktu berputar cepat, aku akan melakukannya demi melihatnya lagi di bandara
tujuan. Satu setengah jam cukup menyita rasa inginku. Setibanya di bandara, ku
tidak melihatnya sama sekali. Hatiku sedih, pupus harapanku untuk meminta nomor
telefonnya.
Mataku terus melalang buana mencari
sosok pria tinggi berkulit putih itu, namun nihil yang ku dapat. Ternyata
penantianku masih panjang untuknya. Aku akan terus menunggunya sampai dua tahun
lagi, di 1 Januari 2015.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar