Rabu, 04 September 2013

dia - poem



DIA

Pasir berbisik-bisik ringan
Mengajakku pergi ke depan
Tak berdiam diri lagi di sini

        Air mata teteskan lara
        Bathin menjerit-jerit kesakitan
        Hanya karena menunggu dia
        Sang pujaan hati yang hilang

Mungkin inilah yang di inginkan
Membuatku menangis yang tak pasti
Menunggu dia yang pergi dari hati
Berharap kan kembali ke pelita hati

                Tetes-tetes hujan mewakili bathin
                Bathun yang memanggil namamu dengan tangis
                Tangis yang hanya ku ketahui dan sang pencipta
                Ku tak ingin mereka tahu hati yang pilu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar