Rabu, 04 September 2013

pendamping di setiap momen hidupku - artikel




PENDAMPING DI SETIAP MOMEN HIDUPKU

            Mungkin jarang seorang anak perempuan mengungkapkan ini terhadap ayahnya karena seorang anak akan cenderung lebih dekat dengan sosok ibu. Berbeda denganku yang mulai memahami ayah ku yang ternyata lebih mendampingiku saat-saat teristimewa dalam hidupku.

            Beliau, ayah yang penuh dengan segudang petuah-petuah lama yang begitu membosankan jika didengarkan setiap saat. Setiap kali aku harus berangkat ke sekolah, beliau akan selalu standby di depan pagar sambil memanaskan motornya. Menunggu aku yang tengah bersiap-siap untuk berangkat sekolah. Dalam perjalanan ke sekolah, tiada detik tanpa beliau berkata-kata. Terkadang aku berusaha tidak mendengar nasehat-nasehat beliau yang membosankan itu. Aku lebih memilih membaca novel atau buku pelajaranku di belakang punggung beliau berharap waktu cepat mengantarkanku ke tujuanku, sekolah.

            Rasanya hatiku lega saat sampai sekolah. Tapi, terkadang jika aku melakukan kesalahan sekecil apapun itu, aku pasti bakalan dinasehati bermenit-menit bahkan mungkin berjam-jam jika stok kata-kata beliau masih banyak. Tiap malam, ku lewati dengan ceramah dari beliau. Walaupun di ruang televisi, yang seharusnya aku menonton televisi tapi tetap saja telingaku mau ga mau mendengarkan nasehat-nasehat beliau. Aku tidak pernah melawan kata-katanya, karena beliau tidak akan mengizinkan hal itu terjadi. Aku hanya bisa terpaksa mendengarkannya sampai ia puas berkata-kata malam itu. Namun terkadang, aku bisa menghentikan nasehat yang terucap dari bibir beliau dengan mengatakan aku harus mengerjakan PR ku.

            Beliau adalah sosok ayah yang sangat sangat mementingkan pendidikan. Beliau akan mengusahakan apapun untuk pendidikan anaknnya. Aku tidak pernah merasa kekurangan suatu apapun dengan pendidikanku. Aku merasa selalu cukup dengan kebutuhan sekolahku yang selalu terpenuhi oleh beliau. Beliau sangat ingin membuat anaknya nyaman belajar dengan tidak menunda-nunda kebutuhan sekolah anaknya. Oleh karena itu beliau selalu memasang target tinggi untuk nilai rapor anak-anaknya. Beliau tidak selera melihat nilai 7 di kolom rapor untuk pelajaran apapun itu. Beliau hanya ingin angka 8 dan 9 di rapor. Jika aku mendapat nilai di bawah 8, malamnya akan diomelin dengan nasehatan yang lebih panjang dari malam-malam sebelumnya.

            Oleh karena itu, dalam masa kecil hingga remajaku, aku membenci hari pengambilan rapor. Itu benar-benar membuatku gugup. Aku tidak merasa takut dengan omelan malam beliau, aku hanya takut mengecewakan harapan beliau yang selalu memasang target tinggi untuk nilai rapor anaknya. Aku ingin sekali melihat beliau bangga padaku dengan nilai yang ku hasilkan.

            Namun, saat aku mendapat nilai tinggi sekalipun bahkan mendapat juara kelaspun, beliau hanya berekspresi biasa aja. Karena saat itu aku hanya mendapatkan juara 2 di kelas. Beliau hanya mengatakan “tingkatkan lagi”, tanpa memujiku. Rasanya meleleh kegembiraanku saat menghadiahkan rapor itu. Bagi beliau, belum waktunya untuk memuji anak perempuan satu-satunya ini.

            Ketidakpuasan beliaulah yang selalu membuatku terus giat belajar. Hanya ingin membuktikan pada beliau aku mampu membuatnya bangga dan memujiku. Itulah yang menjadi alasanku rajin belajar selama masa 12 tahun sekolahku.

            Aku selalu menjadi salah satu anak yang cukup diperhitungkan di kelas. Aku pernah menjadi salah satu perwakilan sekolah dalam olympiade matematika beberapa kali, bahkan pernah diminta ikut olympiade fisika juga, namun karena waktunya sama dengan olympiade matematika, aku menolak kesempatan yang diberikan guru fisikaku. Aku juga pernah diutus sekolah dalam lomba membaca puisi. Aku menjadi instruktur senam selama 2 tahun. Aku pernah menjadi backing vocal, penari latar, dan pembaca puisi di gereja saat natal. Namun, kesemua yang menurutku adalah prestasi itu tidak membanggakan beliau. Aku tidak pesimis, aku tidak mengambil sisi negatifnya. Aku malah terus berusaha menunjukkan pada beliau aku mampu membuatnya bangga padaku.

            Walaupun beliau cukup menjengkelkan bagiku dengan nasehat-nasehatnya, namun beliau selalu ada menemaniku saat-saat hari terpentingku. Beliau akan siap sedia mengantarkan ku untuk daftar sekolah, dari SD, SMP, SMA dan Perguruan Tinggi. Beliaulah yang mengantarkanku dan menyiapkan segala yang aku butuhkan untuk sekolah selanjutnya karena yah aku bilang tadi, beliau sangat peduli dengan pendidikanku.
            Beliau juga rela bangun pagi-pagi buta hanya untuk mengantarku OSPEK atau kegiatan sekolah dan kampus lainnya. Beliau juga rela menungguku seharian saat aku mengikuti olympiade matematika dan lomba puisi. Selalu, beliau akan bertanya “bagaimana ?” dan aku akan menjawabnya “entahlah, pa”.

            Sampai aku dewasa, aku kuliah di perguruan tinggi di kota ku. Beliau jarang bahkan tidak pernah lagi menasehati bahkan mengomeliku padahal aku sering pulang malam, yah karena memang kuliah dan praktikumku sampai malam hari. Beliau sangat mengkhawatirkanku. Setiap magrib dan aku belum pulang, beliau akan menelfon atau sms bertanya dimana keberadaanku. Setiap aku pulang kampus magrib atau hampir jam 8 malam, beliau akan standby di depan pagar rumah seolah-olah beliau sudah lama menungguku. Aku selalu disambut dengan tangannya yang membukakan pagar rumah buatku memasukkan motor. Hal itu masih terus di lakukannya sampai sekarang jika aku pulang malam.

            Untuk pertama kalinya beliau menunjukkan kebanggaannya padaku karena aku mendapatkan ipk yang tinggi, aku pernah mendapatkan nilai A di semua mata kuliah yang ku ambil di semester itu. Beliau semakin bangga lagi padaku sejak aku memperoleh beasiswa yang membiayai seluruh kuliahku. Aku tidak pernah meminta sepeser uangpun pada beliau dan mama sejak aku memperoleh beasiswa itu. Aku membiayai kuliahku dengan prestasiku sendiri. Beliau semakin bangga lagi padaku karena aku mampu membagi waktu kuliahku dengan bekerja sebagai pengajar di sebuah bimbel.

            Akhirnya aku melihat wajah beliau yang bangga padaku. Wajah yang bertahun-tahun ku nantikan menerima dengan bangga semua yang ku lakukan. Beliau tidak segan-segan lagi memuji ku. Terkadang aku merasa asing dengan pujian beliau tapi aku cukup dewasa mengartikan sikap beliau yang dulu hingga sekarang. Beliau hanya ingin mendidikku dari kecil untuk tidak cepat merasa puas akan apa yang ku peroleh. Beliau tidak ingin memujiku agar aku tidak besar kepala dan sombong. Aku mengerti saatku menginjak dewasa sekarang ini.

            Di setiap hari penting dalam hidupku, beliau lah yang menemani. Di saat pendaftaran sekolah dan kuliah, pengambilan rapor, menghadapi olympiade dan lomba, acara-acara di sekolah atau luar sekolah, acara natal yang diselenggarakan sekolah, dan ke bandara untuk pergi gathering beasiswaku. Beliaulah yang selalu mendampingi dan mengantarkanku.

            Hingga nanti saat aku wisuda, jika aku berkesempatan didampingi oleh salah satu orang tua untuk memindahkan tali togaku, yang ku inginkan adalah beliau.

            Dan aku berharap untuk terakhir kalinya jika masih diberi umur, aku ingin beliau mendampingiku dan mengantarkan aku pada pria yang telah berdiri siap di altar pernikahanku. Amiin

Makasih papa udah mendampingi kakak dari kecil hingga saat ini. Love u

                                                                                              

Tidak ada komentar:

Posting Komentar