Dunia Selalu Tersenyum Padamu
By : Irma Natalina Malau
Sore
yang begitu panas memacu pembuluh darahku melebar dan sedikit demi sedikit keringat
membasahi seluruh kulit. Ku merasa seperti memakai pakaian basah saat ku mengendarai
motor kecilku nan imut sesuai ukuran tubuhku. Helm yang seharusnya menjadi
pelindung di saat berkendara malah begitu menyiksa kepalaku yang ingin
merasakan udara bebas. Terasa sedikit demi sedikit peluh mulai membasahi
rambutku hingga mengalir lancar di tepian wajahku. Wajahku mulai basah
berhiaskan peluh seakan mengerti bahwa wajahku harus segera dibersihkan dari
debu jalanan yang ku lewati dengan kecepatan 50 km/jam.
Panasnya
kota Pekanbaru tidak mengubah sama sekali aktifitas penduduknya. Masih banyak
terlihat orang berlalu lalang mengendarai kendaraannya dan berjalan kaki. Teriknya
matahari membakar kulit tidak ada yang peduli. Semua berjalan normal seperti
hari-hari biasanya. Jalanan selalu macet karena volume kendaraan yang semakin
meningkat namun tidak diimbangi luas jalan raya. Keadaan sesak dan kacau mulai
menyergap di hati dan menambah gerah di badan, hati dan otak.
Ku
terus mengendarai motorku semeter demi semeter jalan yang macet. Berharap aku
bisa menghilang atau terbang dari jalan ini dan tiba di tujuanku sekejap
mungkin. Akhirnya antrian yang begitu macet nan sesak itu terlewati setelah 15
menit berlalu.
Ku
berhenti di bawah pohon besar di tepi jalan. Berlindung sejenak dari teriknya
matahari sambil menunggu teman yang sedang dalam perjalanan menemuiku. Jalanan
yang cukup lengang dan sepi dari kendaraan bermotor. Mataku merasakan kebebasan
sejenak tanpa adanya kesesakan dan polusi yang barusan kurasakan. Ku melihat
jauh luas sepanjang jalan yang ku singgahi itu penuh dengan pepohonan rindang
yang menutupi setengah bagian jalan raya sehingga membuat jalanan begitu teduh
dan asri.
Ku
terkejut melihat seorang pria asing yang berjalan ke arahku. Lelaki yang cukup
muda kira-kira berusia 25 tahunan mengenakan pakaian tak layak pakai. Tubuh yang
dibaluti baju kotor dan sobek hampir disetiap bagian, celana pendek jeans yang
lusuh, kotor, dan sobek, kaki yang tidak beralaskan apapun, serta rambut
keriting seleher yang begitu berantakan dan kusam. Hatiku menerka dia sudah
lama tidak mandi bahkan mungkin hidupnya di jalanan. Pria itu berjalan gontai
tanpa pandangan pasti. Mata yang liar melihat kesana kemari tanpa arti
membuatku takut. Namun, ia tetap berjalan melewatiku. Hatiku lega. Nafas yang
cukup memburu akhirnya mereda. Tangan yang buru-buru menyambar stang motor
melambat.
Tidak
jauh dari tempatku duduk, dia berhenti di bawah pohon, tepatnya di tempat
sampah. Ia mengais-ngais tempat sampah layaknya kucing sedang mencari makan.
Mataku terdiam dan tidak berhenti memperhatikan tingkah lakunya. Ku melihat dia
jongkok membelakangiku. Ku melihat pakaian yang ia kenakan, kaki yang begitu
hitam dan kotor, rambut yang begitu berantakan. Aku benar-benar terdiam
melihatnya dari jarak yang tidak terlalu jauh itu.
Ku
melihatnya gembira mendapatkan puding setengah cangkir lengkap dengan sendok
plastiknya. Senyumnya begitu sumringah seperti anak kecil yang baru mendapatkan
mainan yang paling canggih. Ia membuka tutup cangkir puding itu, menyuapkan
sesendok ke dalam mulutnya. Tiba-tiba giginya merapat kemudian lidahnya
menjulur keluar. Bahunya yang terangkat keatas seketika membuatku mengerti
seperti apa rasa puding itu. Asam dan tidak enak. Namun, ia tetap melahapnya
sesendok demi sesendok.
Aku
menebak dalam hati, puding itu sudah lama berada di tempat sampah itu. Ku masih
memperhatikan setiap gerak geriknya. Aku tidak mengerti kenapa mataku terus
penasaran ingin melihat setiap perbuatan yang hendak dilakukannya. Ternyata dia
sadar ada yang memperhatikannya sedari tadi. Tiba-tiba dia membalikkan badannya
dan melihatku dengan tatapan yang sama sekali sulit ku artikan. Tatapannya
kosong. Dia melihatku seperti hanya sekedar melihat. Aku semakin yakin dia
adalah orang yang kurang waras. Tiba-tiba dia tersenyum begitu lebar dan
menengadahkan puding di tangannya padaku. Aku terkejut. Dia menawarkan puding
yang ia dapatkan dari tempat sampah yang menurutnya itu adalah makanan yang
begitu berharga pengganjal perut kosongnya.
Tentu
saja dengan sadar diri, aku tidak akan mencicipi puding itu. Aku sudah tahu
rasanya dari ekspresi wajahnya saat suapan pertama puding itu. Lagipula,
jikapun enak akupun tidak akan berani dekat dengannya apalagi memakan makanan
yang telah dibuang seperti itu. Tapi, hatiku luluh melihat niat baiknya yang
ingin berbagi denganku. Ku tidak mengacuhkannya bahkan berniat pergi
menjauhinya. Ku hanya bisa menggelengkan kepala dan tersenyum. Sekali lagi dia
tersenyum dan menawarkan puding itu dan untuk yang kedua kalinya ku gelengkan
kepala dan melambaikan tangan padanya. Dia tersenyum lagi padaku dan melahap
kembali sisa puding di tangannya.
Ku
tetap melihatnya dari belakang. Jauh mataku melalang buana menyerapi arti
kehidupan. Ternyata di dunia ini masih ada orang yang begitu ikhlas memberikan
senyuman terbaiknya dan berbagi di saat kekurangannya. Walaupun ia bukanlah
orang yang sepenuhnya memiliki kesadaran jiwa namun hatinya masih indah bahkan
mungkin lebih indah dari hati kebanyakan orang.
Akhirnya
aku harus berhenti memperhatikannya dalam diam. Teman yang ku tunggu sudah
datang. Ku pergi dan pria itupun bergegas pergi dari tempat sampah itu. Ku
memperhatikannya sekali lagi untuk yang terakhir. Dia berjalan lurus di
sepanjang bahu jalan. Lurus namun tanpa arah. Yang ku tahu dia memang tidak
punya arah namun dia punya tujuan yaitu mencari pengganjal perutnya. Ku
berharap dia selalu dilindungi oleh Tuhan Yang Maha Esa walaupun berselimutkan
langit hitam bercahaya tiap malamnya. Amiin
.dreamerwhite.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar