Rabu, 04 September 2013

salahkah aku mendidik anak ku ?


SALAHKAH AKU MENDIDIK ANAK KU ?


          Ku hanya bisa merenung di tepian ruko kosong ini, menatap nanar air hujan yang mewakili isi hatiku. Aku beristirahat sejenak dari lelahnya dunia yang memaksaku untuk terus bekerja menghidupi keluargaku. Hidup ini semakin sulit ku rasakan dan tak sanggup ku bendung lagi air mata ini saat hatiku dilukai oleh anak laki-laki yang ku harapkan. Aku merasa jerih payahku sebagai seorang ayah yang membesarkannya bukanlah hal yang patut ia hargai dan pedulikan.

          Aku melihat tumpukan barang-barang pecah belah yang masih banyak belum terjual. Aku merasa tidak punya semangat untuk bekerja saat ku terima kabar dari sekolahnya bahwa dia bolos selama 6 bulan lamanya. Banyak prilakunya di luar sana yang melukai hatiku. Aku tidak menyangka anak lelaki yang dulunya selalu ku gendong di pundakku, yang selalu mandi sore bersamaku, yang saat tidurnya tidak bisa tanpa garukan dari jari jemariku di punggungnya, yang selalu ku kipasin saat ia tidur dalam kepanasan, dan yang selalu ku ajak jalan-jalan sore sekitar komplek rumah dengan motor bututku mampu menghancurkan kepercayaan dan harapanku padanya.

          Sore itu, lelah ku rasakan dari ujung kepala hingga ujung kaki menjajakan barang-barang pecah belah seharian. Ku bersandar pada tembok di tepian teras rumahku. Keringat yang bercucuran menjadi teman setiaku menikmati kopi hangat sore itu. Tidak lama kenyamanan ku beristirahat, hatiku terkesiap melihat sosok tubuh anak remaja lelaki yang dikerumuni beberapa orang lelaki dewasa. Aku mengenal tubuh anak lelaki itu walaupun wajahnya penuh lebam biru dengan darah yang menetes dari mulut dan hidungnya. Aku lemas mendengar penjelasan salah seorang pria yang seumuran denganku tentang tindak kriminal anakku yang sering mencuri di daerah tempat tinggal mereka. Aku merasa tidak percaya anakku melakukan perbuatan tercela itu. Aku melihatnya nanar. Aku ingin sekali mengusap darah yang terus mengalir dari wajahnya dan bertanya apakah lukanya begitu sakit, tapi ku tak sanggup memperlihatkan air mataku. Ku memarahinya di hadapan banyak orang. Ku membentakknya, memakinya, memukulnya dengan tanganku, menendangnya sampai ia tersungkur lemas. Hati ku tidak kuat melihat kesakitan fisik yang ia rasakan. Tapi aku tidak bisa membiarkan orang melihat rasa iba ku.

          Ku meminta maaf pada mereka yang merasa dirugikan karena perbuatan anakku dan mengganti kerugian yang mereka rasakan dalam bentuk uang. Tabungan yang sudah lama ku kumpulkan sebagai Tunjangan Hari Raya bulan depan untuk istri dan anak-anakku habis untuk membayar semua kerugian yang telah dilakukan anak lelakiku itu. Rasa maluku pada kerabat dan tetangga sudah menjadi bagian dari hidupku sejak perbuatan-perbuatan tercelanya di masyarakat yang terus-menerus mencoreng muka ku setiap harinya.

          Bahkan, keesokkan harinya aku menerima telefon dari guru wali nya di sekolah. Aku sudah merasakan hal buruk saat melihat nama yang tertera pada layar hape ku yang berdering. Guru wali kelas. Ku angkat handphone ku. Dengan suara lemah aku menerima telfon itu. Guru tersebut hanya mengatakan apakah aku telah menerima surat dari kepala sekolah yang ia titipkan pada anakku tersebut. Aku mengatakan tidak. Obrolan yang cukup singkat itu cukup menyita pikiran dan perasaanku. Anakku di DO dari sekolahnya, dan surat DO yang seharusnya sampai di tanganku kemarin tidak ku terima sampai detik ini.

          Ia pulang malam itu setelah seharian berkeliaran bersama teman-temannya. Aku tahu dia pasti melakukan hal-hal tercela lagi bersama teman-temannya seharian itu. Aku hanya menunggu kabar memalukan itu lagi masuk ke telingaku. Ku bertanya lembut padanya perihal surat yang diberikan kepala sekolah padanya. Dia membentakku dengan suaranya yang tinggi, mengatakan suratnya telah dibuangnya. Dia tidak peduli di DO oleh sekolah yang tidak bermutu seperti itu.

          Hatiku terasa disayat lagi mendengar bentakannya yang tidak peduli jika dia di DO. Aku merasa apakah dia tidak berfikir akan perasaanku dan ibu nya yang telah banting tulang membiayai sekolahnya selama ini ? Aku bertanya dalam hati apakah dia tidak sedikitpun merasa bersalah dan mengecewakan kedua orang tuanya yang semakin menua ini? Kenapa bisa kalimat itu terucap dari bibirnya yang masih berumur 17 tahun ? 

          Hati ku koyak, tak sanggup ku memarahinya bahkan satu patah katapun tak mampu keluar. Bibirku kelu. Sesak hatiku akan amarah yang sangat memuncak. Ku coba menahan air mata ini di pelupuk mata. Menahannya tidak menetes yang akan menjatuhkan harga diriku sebagai seorang ayah di hadapan anak-anak ku yang lain.

          Dia masuk kekamarnya, mengganti pakaiannya dan menyandangkan jaket di pundaknya lalu pergi melangkah keluar rumah. Aku hanya bisa melihatnya bergerak ke keluar pintu tanpa mengucapkan sepatah katapun. Itu menjadi malam terakhir ku melihatnya. Aku tidak tau kemana ia pergi. Aku hanya mendengar ia menjadi operator warnet milik temannya.

          Tiap malam, ku merindukannya. Bertanya dalam hati bagaimana kehidupannya di luar sana. Bagaimana ia makan, minum, dan tidur. Aku mengkhawatirkannya tiap detik hidupku. Berfikir keras tentang kesalahan apa yang telah ku lakukan selama membesarkannya. Aku pikir ia mengerti dengan kondisi keuangan keluarga, hingga aku berharap dia akan lebih semangat belajar dan menjadi anak yang baik karena melihat ayahnya bekerja bermandikan peluh tiap harinya demi menyekolahkannya. Aku pikir hatinya akan tergugah ingin mengubah kehidupannya kelak menjadi lebih sukses dengan tidak mencontoh ayahnya yang bekerja keras bersama matahari yang menyengat tubuh. Aku pikir pendidikan yang ku usahakan untuknya adalah hadiah terindah untuk masa depannya kelak, namun yang ku terima dia menyia-nyiakan perjuanganku itu.

          Aku tahu, anak adalah cerminan dari orang tua. Aku memang gagal mendidik anakku. Maafkan ayahmu, anakku ...
                                                                       

Tidak ada komentar:

Posting Komentar