SALAHKAH
AKU MENDIDIK ANAK KU ?
Ku hanya bisa merenung di tepian ruko
kosong ini, menatap nanar air hujan yang mewakili isi hatiku. Aku beristirahat
sejenak dari lelahnya dunia yang memaksaku untuk terus bekerja menghidupi
keluargaku. Hidup ini semakin sulit ku rasakan dan tak sanggup ku bendung lagi
air mata ini saat hatiku dilukai oleh anak laki-laki yang ku harapkan. Aku
merasa jerih payahku sebagai seorang ayah yang membesarkannya bukanlah hal yang
patut ia hargai dan pedulikan.
Aku melihat tumpukan barang-barang
pecah belah yang masih banyak belum terjual. Aku merasa tidak punya semangat
untuk bekerja saat ku terima kabar dari sekolahnya bahwa dia bolos selama 6
bulan lamanya. Banyak prilakunya di luar sana yang melukai hatiku. Aku tidak
menyangka anak lelaki yang dulunya selalu ku gendong di pundakku, yang selalu
mandi sore bersamaku, yang saat tidurnya tidak bisa tanpa garukan dari jari
jemariku di punggungnya, yang selalu ku kipasin saat ia tidur dalam kepanasan,
dan yang selalu ku ajak jalan-jalan sore sekitar komplek rumah dengan motor
bututku mampu menghancurkan kepercayaan dan harapanku padanya.
Sore itu, lelah ku rasakan dari ujung
kepala hingga ujung kaki menjajakan barang-barang pecah belah seharian. Ku
bersandar pada tembok di tepian teras rumahku. Keringat yang bercucuran menjadi
teman setiaku menikmati kopi hangat sore itu. Tidak lama kenyamanan ku
beristirahat, hatiku terkesiap melihat sosok tubuh anak remaja lelaki yang
dikerumuni beberapa orang lelaki dewasa. Aku mengenal tubuh anak lelaki itu
walaupun wajahnya penuh lebam biru dengan darah yang menetes dari mulut dan
hidungnya. Aku lemas mendengar penjelasan salah seorang pria yang seumuran
denganku tentang tindak kriminal anakku yang sering mencuri di daerah tempat
tinggal mereka. Aku merasa tidak percaya anakku melakukan perbuatan tercela
itu. Aku melihatnya nanar. Aku ingin sekali mengusap darah yang terus mengalir
dari wajahnya dan bertanya apakah lukanya begitu sakit, tapi ku tak sanggup
memperlihatkan air mataku. Ku memarahinya di hadapan banyak orang. Ku membentakknya,
memakinya, memukulnya dengan tanganku, menendangnya sampai ia tersungkur lemas.
Hati ku tidak kuat melihat kesakitan fisik yang ia rasakan. Tapi aku tidak bisa
membiarkan orang melihat rasa iba ku.
Ku meminta maaf pada mereka yang
merasa dirugikan karena perbuatan anakku dan mengganti kerugian yang mereka
rasakan dalam bentuk uang. Tabungan yang sudah lama ku kumpulkan sebagai
Tunjangan Hari Raya bulan depan untuk istri dan anak-anakku habis untuk
membayar semua kerugian yang telah dilakukan anak lelakiku itu. Rasa maluku
pada kerabat dan tetangga sudah menjadi bagian dari hidupku sejak
perbuatan-perbuatan tercelanya di masyarakat yang terus-menerus mencoreng muka
ku setiap harinya.
Bahkan, keesokkan harinya aku menerima
telefon dari guru wali nya di sekolah. Aku sudah merasakan hal buruk saat
melihat nama yang tertera pada layar hape ku yang berdering. Guru wali kelas.
Ku angkat handphone ku. Dengan suara lemah aku menerima telfon itu. Guru tersebut
hanya mengatakan apakah aku telah menerima surat dari kepala sekolah yang ia
titipkan pada anakku tersebut. Aku mengatakan tidak. Obrolan yang cukup singkat
itu cukup menyita pikiran dan perasaanku. Anakku di DO dari sekolahnya, dan
surat DO yang seharusnya sampai di tanganku kemarin tidak ku terima sampai
detik ini.
Ia pulang malam itu setelah seharian
berkeliaran bersama teman-temannya. Aku tahu dia pasti melakukan hal-hal
tercela lagi bersama teman-temannya seharian itu. Aku hanya menunggu kabar
memalukan itu lagi masuk ke telingaku. Ku bertanya lembut padanya perihal surat
yang diberikan kepala sekolah padanya. Dia membentakku dengan suaranya yang
tinggi, mengatakan suratnya telah dibuangnya. Dia tidak peduli di DO oleh
sekolah yang tidak bermutu seperti itu.
Hatiku terasa disayat lagi mendengar
bentakannya yang tidak peduli jika dia di DO. Aku merasa apakah dia tidak
berfikir akan perasaanku dan ibu nya yang telah banting tulang membiayai
sekolahnya selama ini ? Aku bertanya dalam hati apakah dia tidak sedikitpun
merasa bersalah dan mengecewakan kedua orang tuanya yang semakin menua ini?
Kenapa bisa kalimat itu terucap dari bibirnya yang masih berumur 17 tahun ?
Hati ku koyak, tak sanggup ku
memarahinya bahkan satu patah katapun tak mampu keluar. Bibirku kelu. Sesak
hatiku akan amarah yang sangat memuncak. Ku coba menahan air mata ini di
pelupuk mata. Menahannya tidak menetes yang akan menjatuhkan harga diriku
sebagai seorang ayah di hadapan anak-anak ku yang lain.
Dia masuk kekamarnya, mengganti
pakaiannya dan menyandangkan jaket di pundaknya lalu pergi melangkah keluar
rumah. Aku hanya bisa melihatnya bergerak ke keluar pintu tanpa mengucapkan
sepatah katapun. Itu menjadi malam terakhir ku melihatnya. Aku tidak tau kemana
ia pergi. Aku hanya mendengar ia menjadi operator warnet milik temannya.
Tiap malam, ku merindukannya. Bertanya
dalam hati bagaimana kehidupannya di luar sana. Bagaimana ia makan, minum, dan
tidur. Aku mengkhawatirkannya tiap detik hidupku. Berfikir keras tentang
kesalahan apa yang telah ku lakukan selama membesarkannya. Aku pikir ia
mengerti dengan kondisi keuangan keluarga, hingga aku berharap dia akan lebih
semangat belajar dan menjadi anak yang baik karena melihat ayahnya bekerja
bermandikan peluh tiap harinya demi menyekolahkannya. Aku pikir hatinya akan
tergugah ingin mengubah kehidupannya kelak menjadi lebih sukses dengan tidak
mencontoh ayahnya yang bekerja keras bersama matahari yang menyengat tubuh. Aku
pikir pendidikan yang ku usahakan untuknya adalah hadiah terindah untuk masa
depannya kelak, namun yang ku terima dia menyia-nyiakan perjuanganku itu.
Aku tahu, anak adalah cerminan dari
orang tua. Aku memang gagal mendidik anakku. Maafkan ayahmu, anakku ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar