Rabu, 04 September 2013

menanti musim - poem



                                                        12 november 2008
MENANTI MUSIM

        Malapetaka mengantarkanku ke kedewasaan
        Menyanggupi pilihan dalam dalam dunia fana
        Mengikhlaskan hati menerima pilihan
        Bukan pilihan terbaik, bukan pilihan terburuk

Kutersenyuum tak ada yang menyahut
Ku tertawa berkumpul namum ku tetap sendiri
Diasingkan ku tetap sendiri
Ku tetap sendiri karena kehendakNya

        Menangisi pilihan sulit meruntuhkan tembok ketegaran
        Banjir besar tak terbendung lagi
        Menanti mereka menghapus kesedihan ini
        Mereka siapa, aku siapa

Ku hanya anak manusia kesepian
Berharap sang waktu berputar cepat
Membawaku lagi ke musim baru
Menyiapkan rumah hangat senyum hangat

        Senyum terbeda, termanis, terbahagia
        Bersama mereka yang baru yang terbeda
        Mereka yang baru dengan sifat baru
        Sifat tak ku kenal, tak ku hiraukan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar