Jumat, 13 September 2013

diam ku - poem


DIAM KU

Seorang diri mengemban perasaan sesak
Kelu bibir untuk berkata, hanya diam ekspresi hati
Bergerak namun tak berhati, berjalan namun tak berarah
Kosong pikir, kosong hati, hanya diam temani langkah
Berharap mereka dapat melihat jauh ke dalam mataku
Melihat jeritan hatiku yang telah lama tersimpan rapat
Mengerti kegundahan hatiku akan hari esok
Basah pipi tak ada yang melihat, karena diam dan senyuman sesekali
Ingin lari, namun ku tak kuasa
Ingin menangis, namun air mata bosan mengalir
Gertakan gigi, kepalan tangan menjadi sikap tersembunyi
Tetap menahan hingga akhir tanpa tahu kapan berakhir
Ku hanya bisa duduk terdiam di sudut kamar dalam gelap nya malam
Membayangkan hari indah itu segera menyapaku bersama indahnya warna pelangi

tanpa arti - poem

TANPA ARTI

Jatuh sakit hatiku saat melilhat apa yang sering terjadi
Menanti detik demi detik mengantarkanku pada kepastian hatimu
Bertahan tanpa arti, mengerti tanpa arti dan menunggu tanpa arti
Pandanganmu selalu sama, hanya dia bukan aku
Jalan yang diiringi kepedihan belum mampu menyadarkan ku
Masih tetap menanti tanpa arti, masih menangis tanpa arti
Resapi cinta yang masih tersisa indah di dalam hati
Menyatukan kembali puing-puing keputus-asaan
Kembali tersenyum padamu yang tidak tersenyum
Kuatkan hati semampuku karena keyakinan cinta akan berakhir indah
Terus membayangkan cinta indahmu menghampiri jiwaku
Menyempurnakan hari dan hatiku yang kurang akan jiwamu
Tetap menunggu senyumanmu menyapaku dengan lembut
Penuh kasih dan sayang membelai wajah hatiku
Ku tetap bertahan dan menanti, walau tanpa arti

Senin, 09 September 2013

menunggu hati - poem


Menunggu hati

Aku tau kamu bersamanya di belakangku
Aku tau kamu selalu meluangkan waktumu untuknya dibandingkan aku
Aku tau kamu bahagia saat bersamanya
Tapi yang aku tau aku adalah kekasih mu
Menghentikan air mata ini sesulit menghentikan cintaku padamu
Malam menjadi teman setiaku menghabiskan kegalauan hati
Ku teriak dalam tangis namun tak seorangpun mendengar
Bahkan hatimupun tidak merasakan apa yang hatiku rasa
Cinta yang ada di hatimu, apakah untuknya atau untukku ?
Cinta yang terus ku pertahankan ini menjadi penyiksaan untuk hatiku
Menanti dirimu sedikitnya mengingat memori lama saat bersama ku kala dulu
Mengingat cinta yang pernah ada untukku dan bersemi setiap detiknya
Menemuiku untuk tersenyum mengatakan kata maaf dan cinta
Hatiku masih menunggumu hingga detik ini, dan ku terus menunggu
Sampai engkau menjawab pertanyaan hatiku ...

Jumat, 06 September 2013

desa nan sepi - kampung baru


DESA NAN SEPI – KAMPUNG BARU

Foto anak-anak di kampung baru, bukit kapur

            Untuk pertama kalinya aku meninggalkan rumahku dalam kurun waktu cukup lama yaitu dua bulan lamanya untuk menjalani salah satu kuliahku yaitu “Kuliah Kerja Nyata” yang selalu disingkat Kukerta atau KKN. Kukerta menjadi salah satu keinginan ku sejak lama karena aku ingin mencoba rasanya jauh dari orang tuaku. Aku tau itu keinginan yang aneh. Tapi, sejak aku lahir hingga kuliah di semester 6, tidak pernah sekalipun aku merantau ke kota orang dalam kurun waktu lama. Terkadang, aku iri melihat temanku yang tumbuh mandiri di kota rantauan dengan menjadi anak kos meninggalkan kedua orang tuanya berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun lamanya. Aku ingin memiliki kebebasan seperti yang dirasakan teman-teman kuliahku, namun tidak pernah ku dapatkan.

            Kota Dumai menjadi salah satu tempat pertamaku untuk belajar mandiri tanpa orang tua. Aku harus bisa mengatur diriku di kota yang sebelumnya tidak pernah ku injaki itu. Kami berlimabelas orang harus tinggal di sebuah kampung yang begitu sepi dari aktifitas. Tidak bisa dikatakan sepi sebenarnya, karena rumah penduduk cukup berdekatan dan banyak. Namun, penduduk yang jarang sekali keluar rumah atau sekedar berjalan-jalan sore tidak pernah ku jumpai di kampung itu.

            Setiap subuh mereka akan langsung pergi ke kebun untuk bekerja. Pekerjaan rerata penduduk disana adalah berkebun sawit atau karet. Jadi, wajar jika di pagi hari kampung itu sepi dari penduduk walaupun banyak rumah disana. Ku pikir hanya di pagi hari, ternyata kesunyian kampung itu terus berlanjut ke siang hingga malamnya. Tidak terlihat aktifitas warga di siang hari. Mereka mungkin lebih suka menghabiskan waktunya di dalam rumah untuk tidur siang atau sekedar menonton televisi. Jalanan di sepanjang kampung itu tetap sepi walaupun pada sore hari. Tidak ada warga yang terlihat berjalan-jalan sore. Hanya terlihat kumpulan anak-anak muda yang sedang berkumpul di Poskamling, dan kumpulan anak-anak kecil yang bermain di lapangan samping sekolah mereka. Orang-orang tua tidak terlihat.

            Terdapat dua masjid di desa itu. Bahkan tidak terlalu jauh jarak antar masjid, namun tetap saja masjid tersebut sepi dari jemaahnya. Hanya beberapa orang terlihat shalat magrib di masjid itu. Bahkan di salah satu masjid yang letaknya agak ke dalam kampung, hampir tidak pernah disinggahi oleh warga. Desa yang begitu sepi, sunyi, dan tenang. Tidak banyak aktifitas Kukerta yang kami lakukan di desa itu. Kami lebih banyak melakukan program di Kelurahan yang cukup ramai warganya dalam beraktifitas di luar rumah. Bahkan sepinya kampung itu tetap bertahan walau hari kemerdekaan sampai memasuki bulan puasa bahkan hingga lebaranpun kampung itu tetap sepi.

            Hatiku terisis melihat seorang kakek yang berkulit kering dan kotor, seakan-akan beliau tidak pernah mandi berbulan-bulan lamanya. Tubuhnya bertemankan lalat setiap harinya. Setiap ku melewatinya, ku coba menahan bau pesing yang menyengat hidungku. Lelaki yang kurang fasih berbahasa Indonesia itu hanya bisa berbahasa jawa namun terkadang bahasanya cukup sulit kami pahami. Pendengarannya yang sedikit terganggu membuat kami sulit berkomunikasi dengan beliau.

            Beliau tinggal seorang diri di dalam rumah petak kecil tak berpintu. Terkadang setiap pagi ku dapati beliau hanya memakai baju tanpa pakaian bawah dan dalaman berjalan di sekitar rumahnya sambil memetik dedaunan untuk dia makan. Dia memakan daun mentah yang tumbuh di sekitar pekarangan rumahnya. Ku tahu seperti apa kelaparan yang ia derita setiap harinya sampai ia harus mengunyah daun mentah itu sebagai pengganjal rasa laparnya.

            Dengan kakinya yang renta, kulitnya yang kotor dan kering, wajahnya yang sayu, dan pakaiannya yang lusuh tidak pernah dicuci, ia berjalan-jalan kecil sekedar menikmati suasana desa yang sepi itu. Ia melihat kanan dan kiri berharap ia bisa meminta sesuap nasi dari mereka yang lewat, namun nihil yang ia dapat. Warga enggan mendekatinya karena bau busuk yang keluar dari tubuhnya itu.

            Ku mendengar kabar bahwa di masa lalu hidupnya, ia memiliki seorang istri dan seorang anak perempuan. Aku tidak tahu pasti mengapa istrinya meninggalkannya. Ku dengar kabar bahwa istrinya meninggalkannya karena penyakit menular yang dimilikinya. Sampai anak perempuannya yang telah menikahpun enggan mengurusinya. Beliau harus terus bertahan hidup seorang sendiri di desa sepi itu.

            Aku berharap, semoga beliau diberi perlindungan olehNya dan dibukakan pintu kebahagiaan. Amiin. Setidaknya, dengan perantauan ku yang hanya dua bulan itu banyak makna yang ku petik dari kehidupan orang-orang yang baru ku jumpai. Ternyata hidup di masyarakat banyak mengajarkan kita arti kehidupan seseungguhnya. Menghargai setiap rejeki yang diberikan Tuhan, karena masih banyak orang yang tidak seberuntung kita.

                                                                                                            .dreamerwhite.

mereka hanya melihatmu, namun kamu tidak melihat mereka - catatan



MEREKA HANYA MELIHATMU, NAMUN KAMU TIDAK MELIHAT MEREKA

            Hai generasi muda yang kini sedang duduk di bangku sekolah hingga perkuliahan. Apa yang tengah kalian lakukan untuk masa depan kalian saat ini ? Apakah sedang menghabiskan waktu berkeliling ga jelas dengan motor baru yang baru dikredit orang tua kalian selama 2 – 3 tahun  ke depan ? atau sedang belajar merias wajah dengan alat make up yang baru kalian beli dari uang bulanan yang diberikan orang tua kalian yang seharusnya untuk menunjang pendidikan kalian di kota rantauan ? atau sedang berkeliling-keliling mall untuk mencuci mata dan meningkatkan sifat konsumtif kalian ? atau sedang hang out bersama kawan berjam-jam di kafe yang membahas tentang harta milik orang tua kalian, yang entah itu mungkin kebohongan dari mulut kalian yang masih muda ? atau untuk sekedar setia bertemankan playstations dari pagi hingga pagi lagi ? atau membiarkan mata kalian tetap terkonsentrasi dengan sosial media, berharap mendapat pacar yang cakep dan tajir ? Apakah itu yang kalian lakukan ? aku berharap tidak walaupun aku sangsi akan harapanku.

            Ingatkah kamu sewaktu kamu kecil bagaimana kedua orang tuamu mengajarimu merangkak, berjalan, berlari, berbicara, membaca, menulis, dan berhitung. Bahkan masih banyak lagi yang mereka ajarkan untukmu. Mengajari melakukan sesuatu yang sebelumnya sulit kamu lakukan. Apakah kamu ingat perjuangan kedua orang tuamu untuk membuatmu mampu dan mandiri sedari kecil ? tentu saja kamu tidak ingat, karena mungkin kamu terlalu kecil untuk menyimpan kenangan itu semua. Namun, setiap bayi yang terlahir akan merasakan semua pengorbanan orang tua mereka masing-masing dengan cara yang sama dan cinta yang sama. Yap ! Cinta.

            Cinta. Kata yang begitu indah dan memiliki makna mujizat saat memakainya untuk kebaikan. Orang tua yang mengajarimu pertama kali akan caranya mencintai dan dicintai. Lantas bagaimana bisa kamu seolah-olah tidak mencintai kedua orang tua mu yang banting tulang memenuhi kebutuhan hidup dan pendidikanmu ?

            Bahkan kamu lebih memilih untuk menghargai teman-teman yang baru setahun atau dua tahun kamu kenal. Kamu lebih rela memfoya-foyakan uang jajanmu demi kekasih hatimu yang padahal uang jajan itu didapat orang tuamu dengan susah payah. Kenapa kamu bisa mencintai orang-orang yang tidak ada hubungan darahnya denganmu dibandingkan kedua orang tuamu yang jelas-jelas menyumbang setengah dirinya untukmu lahir kedua ini ?
            Mereka mengajarkan cinta padamu dan kamu menerapkannya lebih ke orang-orang asing di hidupmu sebelumnya. Kamu merasa maaf dari orang tua akan lebih gampang kamu dapatkan dibandingkan maaf dari teman atau pacar. Oleh karena itu kamu bersusah payah untuk menunjukkan rasa cintamu pada teman dan pacarmu dibandingkan kepada kedua orang tuamu. Bagimu tidak masalah melukai kedua hati orang tua mu, mereka akan segera memaafkanmu. Yah, benar. Mereka akan segera memaafkan mu karena mereka mencintaimu. Setiap harinya mereka menunjukkan rasa cintanya padamu dengan memaafkanmu namun cinta mereka tidak terbalaskan setimpal dari perbuatan baikmu pada mereka.

            Tidak sulit bagimu untuk menjadi anak yang berbakti. Orang tua tidak akan memaksakan anaknya untuk menjadi apa yang dikehendakinya. Orang tua akan bangga padamu ketika kamu mau memperlihatkan rasa cintamu pada mereka. Mudah saja. Turuti semua keinginan mereka. Lakukan apa yang mereka inginkan, dan jangan lakukan apa yang mereka larang. Namun, kenyataannya kamu tidak mengindahkan keinginan mereka. Padahal keinginan mereka bukanlah benar-benar untuk kepentingan mereka, melainkan untuk kepentingan mu sendiri di masa depan.

            Orang tua tidak mengharapkan sekali anaknya harus menjadi juara kelas atau berprestasi di segala bidang. Orang tua akan lebih mengharapkan anaknya tumbuh menjadi pria dan wanita dewasa berakhlak mulia. Adapun prestasi dan kesuksesan yang diperoleh kelak adalah bonus untuk kamu-kamu yang tetap berpegang teguh pada nasehat-nasehat orang tuamu.

            Lihatlah lebih dalam dari hatimu bagaimana dulunya kamu kecil hingga sekarang menjadi lelaki dan wanita remaja dan dewasa saat ini. Pengorbanan seperti apa lagi yang kamu harapkan akan mereka berikan untukmu ? tidakkah kamu ingin berganti untuk berkorban demi membahagiakan mereka ? tidakkah kamu malu terus-terusan dicintai tanpa membalas cinta mereka ?

            Ingatlah. Mereka orang tuamu. Bagaimanapun mereka tidak akan punya alasan meninggalkanmu. Mereka akan selalu ada untukmu di setiap momen hidupmu. Membantumu dengan seluruh upaya mereka walau itu sebenarnya mustahil mereka upayakan. Tidakkah kamu bayangkan besarnya cinta mereka untukmu bertahun-tahun dalam kehidupanmu ?

            Buktikan pada mereka bahwa mereka tidak salah memiliki seorang anak seperti kamu. Buktikan pada dunia bahwa kedua orang tuamu adalah orang tua terbaik. Buatlah mereka bangga sebelum ajal menjemput mereka. Senyuman bangga mereka saat melihatmu di masa depan adalah medali termahal semasa hidupmu. Percayalah !!
                                                                                                            .Dreamerwhite.