Sabtu, 05 Oktober 2013

dunia selalu tersenyum padamu - artikel

Dunia Selalu Tersenyum Padamu
By : Irma Natalina Malau

        Sore yang begitu panas memacu pembuluh darahku melebar dan sedikit demi sedikit keringat membasahi seluruh kulit. Ku merasa seperti memakai pakaian basah saat ku mengendarai motor kecilku nan imut sesuai ukuran tubuhku. Helm yang seharusnya menjadi pelindung di saat berkendara malah begitu menyiksa kepalaku yang ingin merasakan udara bebas. Terasa sedikit demi sedikit peluh mulai membasahi rambutku hingga mengalir lancar di tepian wajahku. Wajahku mulai basah berhiaskan peluh seakan mengerti bahwa wajahku harus segera dibersihkan dari debu jalanan yang ku lewati dengan kecepatan 50 km/jam.

        Panasnya kota Pekanbaru tidak mengubah sama sekali aktifitas penduduknya. Masih banyak terlihat orang berlalu lalang mengendarai kendaraannya dan berjalan kaki. Teriknya matahari membakar kulit tidak ada yang peduli. Semua berjalan normal seperti hari-hari biasanya. Jalanan selalu macet karena volume kendaraan yang semakin meningkat namun tidak diimbangi luas jalan raya. Keadaan sesak dan kacau mulai menyergap di hati dan menambah gerah di badan, hati dan otak.

        Ku terus mengendarai motorku semeter demi semeter jalan yang macet. Berharap aku bisa menghilang atau terbang dari jalan ini dan tiba di tujuanku sekejap mungkin. Akhirnya antrian yang begitu macet nan sesak itu terlewati setelah 15 menit berlalu.

        Ku berhenti di bawah pohon besar di tepi jalan. Berlindung sejenak dari teriknya matahari sambil menunggu teman yang sedang dalam perjalanan menemuiku. Jalanan yang cukup lengang dan sepi dari kendaraan bermotor. Mataku merasakan kebebasan sejenak tanpa adanya kesesakan dan polusi yang barusan kurasakan. Ku melihat jauh luas sepanjang jalan yang ku singgahi itu penuh dengan pepohonan rindang yang menutupi setengah bagian jalan raya sehingga membuat jalanan begitu teduh dan asri.

        Ku terkejut melihat seorang pria asing yang berjalan ke arahku. Lelaki yang cukup muda kira-kira berusia 25 tahunan mengenakan pakaian tak layak pakai. Tubuh yang dibaluti baju kotor dan sobek hampir disetiap bagian, celana pendek jeans yang lusuh, kotor, dan sobek, kaki yang tidak beralaskan apapun, serta rambut keriting seleher yang begitu berantakan dan kusam. Hatiku menerka dia sudah lama tidak mandi bahkan mungkin hidupnya di jalanan. Pria itu berjalan gontai tanpa pandangan pasti. Mata yang liar melihat kesana kemari tanpa arti membuatku takut. Namun, ia tetap berjalan melewatiku. Hatiku lega. Nafas yang cukup memburu akhirnya mereda. Tangan yang buru-buru menyambar stang motor melambat.

        Tidak jauh dari tempatku duduk, dia berhenti di bawah pohon, tepatnya di tempat sampah. Ia mengais-ngais tempat sampah layaknya kucing sedang mencari makan. Mataku terdiam dan tidak berhenti memperhatikan tingkah lakunya. Ku melihat dia jongkok membelakangiku. Ku melihat pakaian yang ia kenakan, kaki yang begitu hitam dan kotor, rambut yang begitu berantakan. Aku benar-benar terdiam melihatnya dari jarak yang tidak terlalu jauh itu.

        Ku melihatnya gembira mendapatkan puding setengah cangkir lengkap dengan sendok plastiknya. Senyumnya begitu sumringah seperti anak kecil yang baru mendapatkan mainan yang paling canggih. Ia membuka tutup cangkir puding itu, menyuapkan sesendok ke dalam mulutnya. Tiba-tiba giginya merapat kemudian lidahnya menjulur keluar. Bahunya yang terangkat keatas seketika membuatku mengerti seperti apa rasa puding itu. Asam dan tidak enak. Namun, ia tetap melahapnya sesendok demi sesendok.

        Aku menebak dalam hati, puding itu sudah lama berada di tempat sampah itu. Ku masih memperhatikan setiap gerak geriknya. Aku tidak mengerti kenapa mataku terus penasaran ingin melihat setiap perbuatan yang hendak dilakukannya. Ternyata dia sadar ada yang memperhatikannya sedari tadi. Tiba-tiba dia membalikkan badannya dan melihatku dengan tatapan yang sama sekali sulit ku artikan. Tatapannya kosong. Dia melihatku seperti hanya sekedar melihat. Aku semakin yakin dia adalah orang yang kurang waras. Tiba-tiba dia tersenyum begitu lebar dan menengadahkan puding di tangannya padaku. Aku terkejut. Dia menawarkan puding yang ia dapatkan dari tempat sampah yang menurutnya itu adalah makanan yang begitu berharga pengganjal perut kosongnya.

        Tentu saja dengan sadar diri, aku tidak akan mencicipi puding itu. Aku sudah tahu rasanya dari ekspresi wajahnya saat suapan pertama puding itu. Lagipula, jikapun enak akupun tidak akan berani dekat dengannya apalagi memakan makanan yang telah dibuang seperti itu. Tapi, hatiku luluh melihat niat baiknya yang ingin berbagi denganku. Ku tidak mengacuhkannya bahkan berniat pergi menjauhinya. Ku hanya bisa menggelengkan kepala dan tersenyum. Sekali lagi dia tersenyum dan menawarkan puding itu dan untuk yang kedua kalinya ku gelengkan kepala dan melambaikan tangan padanya. Dia tersenyum lagi padaku dan melahap kembali sisa puding di tangannya.

        Ku tetap melihatnya dari belakang. Jauh mataku melalang buana menyerapi arti kehidupan. Ternyata di dunia ini masih ada orang yang begitu ikhlas memberikan senyuman terbaiknya dan berbagi di saat kekurangannya. Walaupun ia bukanlah orang yang sepenuhnya memiliki kesadaran jiwa namun hatinya masih indah bahkan mungkin lebih indah dari hati kebanyakan orang.

        Akhirnya aku harus berhenti memperhatikannya dalam diam. Teman yang ku tunggu sudah datang. Ku pergi dan pria itupun bergegas pergi dari tempat sampah itu. Ku memperhatikannya sekali lagi untuk yang terakhir. Dia berjalan lurus di sepanjang bahu jalan. Lurus namun tanpa arah. Yang ku tahu dia memang tidak punya arah namun dia punya tujuan yaitu mencari pengganjal perutnya. Ku berharap dia selalu dilindungi oleh Tuhan Yang Maha Esa walaupun berselimutkan langit hitam bercahaya tiap malamnya. Amiin

                                                                                .dreamerwhite.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar