Sabtu, 05 Oktober 2013

mimpi tidak butuh teori - poem



Mimpi tidak Butuh Teori
By : irma natalina malau

Rangkakan kaki mengantarkan ku di usia seperempat abad
Melangkah penuh kehati-hatian dan keraguan hati
Salah sekali, ku takut fatal dan mengubah dunia ku selanjutnya
Mencoba tetap diam dan bermenung selama yang ku butuhkan
Diam menyelimuti kegalauan hati dan mengacaukan pikiran
Diam dalam banyak ide yang muncul silih berganti
Pikiran mulai berteori dan terus berteori tanpa kesimpulan pasti
Karena semuanya rencana dan praduga yang tidak pernah dirasakan
Berfikir dan terus berfikir
Berteori dan terus berteori
Mengantarkan ku pada penghujung waktu ku
Harus memilih karena waktu muak bersabar menungguku lagi
Masih diam dan mata terus tenggelam dalam lamunan
Ketakutan merenggut segala imajinasi
Melumpuhkan segala impian gila nan ekstrim
Berfikir dan terus berfikir
Berteori dan terus berteori
Hanya menuntunku ke jalan buntu tanpa ingat arah jalan sebelumnya
Tersesat dalam teori yang dihasilkan dari ketakutan
Berlari dari teori melumpuhkan ketakutan
Mengantarkan ku pada kenyataan dan pelajaran hidup
Bukan tentang pencapaian yang tergores di hati
Namun, tentang proses pencapaian yang sangat lekang di memori
Membesarkan hati dan menambah ilmu
Begitulah seharusnya aku hidup
...

dunia selalu tersenyum padamu - artikel

Dunia Selalu Tersenyum Padamu
By : Irma Natalina Malau

        Sore yang begitu panas memacu pembuluh darahku melebar dan sedikit demi sedikit keringat membasahi seluruh kulit. Ku merasa seperti memakai pakaian basah saat ku mengendarai motor kecilku nan imut sesuai ukuran tubuhku. Helm yang seharusnya menjadi pelindung di saat berkendara malah begitu menyiksa kepalaku yang ingin merasakan udara bebas. Terasa sedikit demi sedikit peluh mulai membasahi rambutku hingga mengalir lancar di tepian wajahku. Wajahku mulai basah berhiaskan peluh seakan mengerti bahwa wajahku harus segera dibersihkan dari debu jalanan yang ku lewati dengan kecepatan 50 km/jam.

        Panasnya kota Pekanbaru tidak mengubah sama sekali aktifitas penduduknya. Masih banyak terlihat orang berlalu lalang mengendarai kendaraannya dan berjalan kaki. Teriknya matahari membakar kulit tidak ada yang peduli. Semua berjalan normal seperti hari-hari biasanya. Jalanan selalu macet karena volume kendaraan yang semakin meningkat namun tidak diimbangi luas jalan raya. Keadaan sesak dan kacau mulai menyergap di hati dan menambah gerah di badan, hati dan otak.

        Ku terus mengendarai motorku semeter demi semeter jalan yang macet. Berharap aku bisa menghilang atau terbang dari jalan ini dan tiba di tujuanku sekejap mungkin. Akhirnya antrian yang begitu macet nan sesak itu terlewati setelah 15 menit berlalu.

        Ku berhenti di bawah pohon besar di tepi jalan. Berlindung sejenak dari teriknya matahari sambil menunggu teman yang sedang dalam perjalanan menemuiku. Jalanan yang cukup lengang dan sepi dari kendaraan bermotor. Mataku merasakan kebebasan sejenak tanpa adanya kesesakan dan polusi yang barusan kurasakan. Ku melihat jauh luas sepanjang jalan yang ku singgahi itu penuh dengan pepohonan rindang yang menutupi setengah bagian jalan raya sehingga membuat jalanan begitu teduh dan asri.

        Ku terkejut melihat seorang pria asing yang berjalan ke arahku. Lelaki yang cukup muda kira-kira berusia 25 tahunan mengenakan pakaian tak layak pakai. Tubuh yang dibaluti baju kotor dan sobek hampir disetiap bagian, celana pendek jeans yang lusuh, kotor, dan sobek, kaki yang tidak beralaskan apapun, serta rambut keriting seleher yang begitu berantakan dan kusam. Hatiku menerka dia sudah lama tidak mandi bahkan mungkin hidupnya di jalanan. Pria itu berjalan gontai tanpa pandangan pasti. Mata yang liar melihat kesana kemari tanpa arti membuatku takut. Namun, ia tetap berjalan melewatiku. Hatiku lega. Nafas yang cukup memburu akhirnya mereda. Tangan yang buru-buru menyambar stang motor melambat.

        Tidak jauh dari tempatku duduk, dia berhenti di bawah pohon, tepatnya di tempat sampah. Ia mengais-ngais tempat sampah layaknya kucing sedang mencari makan. Mataku terdiam dan tidak berhenti memperhatikan tingkah lakunya. Ku melihat dia jongkok membelakangiku. Ku melihat pakaian yang ia kenakan, kaki yang begitu hitam dan kotor, rambut yang begitu berantakan. Aku benar-benar terdiam melihatnya dari jarak yang tidak terlalu jauh itu.

        Ku melihatnya gembira mendapatkan puding setengah cangkir lengkap dengan sendok plastiknya. Senyumnya begitu sumringah seperti anak kecil yang baru mendapatkan mainan yang paling canggih. Ia membuka tutup cangkir puding itu, menyuapkan sesendok ke dalam mulutnya. Tiba-tiba giginya merapat kemudian lidahnya menjulur keluar. Bahunya yang terangkat keatas seketika membuatku mengerti seperti apa rasa puding itu. Asam dan tidak enak. Namun, ia tetap melahapnya sesendok demi sesendok.

        Aku menebak dalam hati, puding itu sudah lama berada di tempat sampah itu. Ku masih memperhatikan setiap gerak geriknya. Aku tidak mengerti kenapa mataku terus penasaran ingin melihat setiap perbuatan yang hendak dilakukannya. Ternyata dia sadar ada yang memperhatikannya sedari tadi. Tiba-tiba dia membalikkan badannya dan melihatku dengan tatapan yang sama sekali sulit ku artikan. Tatapannya kosong. Dia melihatku seperti hanya sekedar melihat. Aku semakin yakin dia adalah orang yang kurang waras. Tiba-tiba dia tersenyum begitu lebar dan menengadahkan puding di tangannya padaku. Aku terkejut. Dia menawarkan puding yang ia dapatkan dari tempat sampah yang menurutnya itu adalah makanan yang begitu berharga pengganjal perut kosongnya.

        Tentu saja dengan sadar diri, aku tidak akan mencicipi puding itu. Aku sudah tahu rasanya dari ekspresi wajahnya saat suapan pertama puding itu. Lagipula, jikapun enak akupun tidak akan berani dekat dengannya apalagi memakan makanan yang telah dibuang seperti itu. Tapi, hatiku luluh melihat niat baiknya yang ingin berbagi denganku. Ku tidak mengacuhkannya bahkan berniat pergi menjauhinya. Ku hanya bisa menggelengkan kepala dan tersenyum. Sekali lagi dia tersenyum dan menawarkan puding itu dan untuk yang kedua kalinya ku gelengkan kepala dan melambaikan tangan padanya. Dia tersenyum lagi padaku dan melahap kembali sisa puding di tangannya.

        Ku tetap melihatnya dari belakang. Jauh mataku melalang buana menyerapi arti kehidupan. Ternyata di dunia ini masih ada orang yang begitu ikhlas memberikan senyuman terbaiknya dan berbagi di saat kekurangannya. Walaupun ia bukanlah orang yang sepenuhnya memiliki kesadaran jiwa namun hatinya masih indah bahkan mungkin lebih indah dari hati kebanyakan orang.

        Akhirnya aku harus berhenti memperhatikannya dalam diam. Teman yang ku tunggu sudah datang. Ku pergi dan pria itupun bergegas pergi dari tempat sampah itu. Ku memperhatikannya sekali lagi untuk yang terakhir. Dia berjalan lurus di sepanjang bahu jalan. Lurus namun tanpa arah. Yang ku tahu dia memang tidak punya arah namun dia punya tujuan yaitu mencari pengganjal perutnya. Ku berharap dia selalu dilindungi oleh Tuhan Yang Maha Esa walaupun berselimutkan langit hitam bercahaya tiap malamnya. Amiin

                                                                                .dreamerwhite.

menunggu senja - poem



Menunggu Senja
By : irma natalina malau

Angin lembut membelai wajahku dan menyentuh ke relung hatiku
Mengisi harapan di dalam hati terdalam akan penantian panjang
Duduk sendiri dalam keheningan waktu senja
Mata melalang buana menembus awan kemerahan di ufuk barat
Melihat sisi kananku kosong tanpa penghuni
Dan jari jemari kananku yang sendirian tanpa jari jemari lain melengkapi
Pandanganku merajai sore dengan sebuah harapan cinta
Melihat jauh ke hari esok yang kelak memelukku dengan erat dan hangat
Menghapus air mata di hati
menumbuhkan cinta yang telalu lama layu dimakan sang waktu
Berjalan sendirian mengitari rerumputan hijau bercahaya
Seolah rumput menemani gerak langkahku dan mengerti kesendirianku
Iri melihat setiap bunga bermekaran tidak sendirian
Selalu bersama dengan tumbuhan lain, membuat taman sore begitu cantik
Kelak, di suatu sore nanti ku berjalan tidak sendirian
Ada seseorang di sisi kananku, menggenggam tanganku
Tersenyum padaku, membalut hatiku akan cinta ..
amiin

terjerembab jantungku - poem



.Terjerembab jantungku.
By : irma natalina malau

Aliran darahku mengalir deras saat ku melihat yang selalu ku jauhi
Mengalir berlari menuju jantungku yang terdalam
Menyentuh luka yang masih sangat basah di dalam hati terdasar
Hati yang sekian lama ku tutupi dengan senyuman dan kepalsuan tawa
Bulir tiap bulir mutiara air dari mata ini sulit ku bendung lagi
Terasa tertusuk jauh lebih dalam lagi pedih yang seketika ku rasakan ini
Ku lumpuh karenamu, cintaku, cintamu, dan cintanya
Ku pikir waktu telah mampu menutup bekas luka di dasar hati
Namun, setitik air mata mampu kembali membuka luka lama
Tumpah ruah pedih, sakit, luka, sedih dan air mata seketika
Tanpa ku tahu lagi mana yang aku rasakan saat ini
Kelu bibirku, lumpuh kakiku, nanar pandanganku, sakit hatiku
Musik pengiring kegalauan hati
Tenggelam dalam tiap lirik merdu nan sarat makna
Seakan mengerti akan perasaan ku saat ini padamu, malam ini
........

karena cintamu berbeda - poem



karena cinta mu berbeda
by : Irma Natalina Malau

melewati sang waktu satu per satu tanpa senyum mu
menerawang jauh ke hati mu yang tak tersentuh lagi akan hangatnya cintaku
pergi meninggalkan janji tanpa kepastian kembali
aku disini engkau dimana
senyumanmu yang terpancar dalam kenangan foto
peneman tidur setiap malam sebelum ku memeluk mimpi
berharap bayanganmu cukup hadir dalam dunia maya mimpi ku
memelukku dengan hangat dan tak pernah berlalu lagi
yakin pada hati bahwa hari itu akan tiba
tanpa tahu kapan terjadi dan apakah akan terjadi
menunggu dan terus menunggu bertemankan keyakinan janji
menyakini cinta tulus akan berakhir pada hatimu disana yang nun jauh
berharap harapan cinta sampai pada hatimu yang tak terpegang lagi
menggetarkan hatimu dan menggugah hatimu untuk hadir dalam dunia nyataku tanpa perpisahan lagi
jauh menyelami bayangan masa depan dengan senyuman terindah
membuatku menatap pagi dengan pesona dan percaya
bahwa hari ini aku akan melihatmu ...