SAAT
CINTA HADIR DAN PERGI TANPA ALASAN
By:
Irma Natalina Malau
Malam hangat ditemani sang rembulan bersama ribuan laskar
bintang, menjadi saksi bisu antara aku dan dia kala itu. Menyusuri jalan kota
yang penuh dengan lampu kota. Indah dan gemerlap. Tak banyak kata terucap dari
bibirku. Telingaku menjadi organ aktif malam itu, mendengarkan semua ceritanya
yang berusaha memperkenalkan jati dirinya padaku. Seorang pria yang baru ku
kenal dan ku lihat. Teman dari seorang teman yang begitu ku percaya.
Ku mendengarkan kisah demi kisahnya, membuatku melihat
dengan jelas kepribadiannya. Dia pria yang hebat pikirku. Lelaki yang berbeda
dan unik dari setiap lelaki yang mendekatiku. Aku tertarik padanya kala itu,
dan ku lihat mata indahnya memandangku penuh penasaran, seolah-olah dia juga
memiliki rasa yang sama terhadapku,
Ketika hati ga bisa dibohongi lagi, ketika waktu bukanlah
hal yang harus dipermasalahankan, ketika cinta ga bisa diingkari kehadirannya,
ku menerima segala cinta dan kepribadiannya keesokkan harinya. Awalnya, keraguan
menjadi teman dalam pikiranku, namun ku beranikan diri untuk mencinta karena ku
yakin akan dia yang hadir dalam hidupku yang penuh ketergesa-gesaan ini.
Bahagia. Itu menjadi kata dan rasa yang selalu tersirat
dalam pikir dan bathin ku. Ku merasa seperti wanita paling bahagia. Permaisuri
yang mendapatkan pangeran idamannya. Perasaan gila itu benar-benar membuatku
seperti anak remaja yang baru mengenal cinta. Ku ingin menunjukkan pada dunia
betapa bahagianya diriku memiliki pria yang setahun lamanya ku tunggu. Dalam
benak, ku harus bisa mempertahankannya, menjadi wanita sesempurna mungkin untuk
membuatnya tetap mencintaiku dan di sisiku.
Hitungan haripun menjadi teman setiaku menitik kisah
cinta bersamanya. Waktu berjalan begitu lambat ketika tidak ada komunikasi
lancar lagi diantara kami, ketika tidak ada lagi pertemuan di tiap harinya. Aku
mulai gelisah. Kala ku teringat keenam kisah cintaku pupus di tengah jalan yang
menyisakan kepedihan dan air mata. Ku mulai merasa takut akan kejadian-kejadian
yang penah ku nikmati di masa lalu itu.
Minggu ketiga akhir di bulan yang ku pikir menjadi bulan
terindah bagiku berbalik menjadi bulan terburuk bagiku. Kehadirannya mulai tak
kurasakan lagi selama beberapa hari. Tidak ada komunikasi. Tidak ada pertemuan.
Dia tidak mempedulikan telfon dan pesan singkatku yang selalu ku kirimkan
padanya. Hatiku bertanya sedang apa dan dimana dirinya. Bersabar dalam sebuah
penantian, menghantarkanku dipenghujung kisah cintaku.
Kala pagi itu, menyusuri jalan menuju kampus, ku terima
pesan singkat. Bahagia saat ku tahu itu adalah darinya yang telah lama ku
tunggu. Pesannya yang ternyata membuat hatiku runtuh tak terkira. Pagi cerah
hanya ada di bayangan mataku, namun hatiku gelap gulita seketika. Kosong pikir,
kelu bibirku. Tak tau ekspresi apa yang harus ku tunjukkan di wajah ini. Pasi
wajahku.
Air mata sangat tahu kapan harus mengalir menemani
kesedihanku. Pedih ku rasa. Berulang kali ku hubunginya, namun nihil ku terima.
Pesan singkat pertamanya dan yang terakhirnya menghantarkan hubungan yang putus
tanpa sebab. Tidak ada alasan baginya untuk menjelaskan keputusannya itu.
Kemanapun aku bertanya, aku tidak akan mendapatkan jawabannya. Satu-satunya
tempat ku bertanya tentangnya adalah dirinya, namun dirinya menghilang tanpa
jejak.
Kehadiran cintanya mendadak, kepergiaannyapun mendadak.
Luluh lantak hatiku mengingat semua janji manisnya. Seolah-olah menyesali diri
akan cinta yang ku biarkan masuk ke dalam hatiku. Ku biarkan waktu menjawab
semua pertanyaanku suatu hari nanti. Ku yakin semua keputusan memiliki
alasannya walaupun dia berbohong mengatakan tak ada alasan.
.dreamerwhite.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar