Jumat, 06 September 2013

desa nan sepi - kampung baru


DESA NAN SEPI – KAMPUNG BARU

Foto anak-anak di kampung baru, bukit kapur

            Untuk pertama kalinya aku meninggalkan rumahku dalam kurun waktu cukup lama yaitu dua bulan lamanya untuk menjalani salah satu kuliahku yaitu “Kuliah Kerja Nyata” yang selalu disingkat Kukerta atau KKN. Kukerta menjadi salah satu keinginan ku sejak lama karena aku ingin mencoba rasanya jauh dari orang tuaku. Aku tau itu keinginan yang aneh. Tapi, sejak aku lahir hingga kuliah di semester 6, tidak pernah sekalipun aku merantau ke kota orang dalam kurun waktu lama. Terkadang, aku iri melihat temanku yang tumbuh mandiri di kota rantauan dengan menjadi anak kos meninggalkan kedua orang tuanya berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun lamanya. Aku ingin memiliki kebebasan seperti yang dirasakan teman-teman kuliahku, namun tidak pernah ku dapatkan.

            Kota Dumai menjadi salah satu tempat pertamaku untuk belajar mandiri tanpa orang tua. Aku harus bisa mengatur diriku di kota yang sebelumnya tidak pernah ku injaki itu. Kami berlimabelas orang harus tinggal di sebuah kampung yang begitu sepi dari aktifitas. Tidak bisa dikatakan sepi sebenarnya, karena rumah penduduk cukup berdekatan dan banyak. Namun, penduduk yang jarang sekali keluar rumah atau sekedar berjalan-jalan sore tidak pernah ku jumpai di kampung itu.

            Setiap subuh mereka akan langsung pergi ke kebun untuk bekerja. Pekerjaan rerata penduduk disana adalah berkebun sawit atau karet. Jadi, wajar jika di pagi hari kampung itu sepi dari penduduk walaupun banyak rumah disana. Ku pikir hanya di pagi hari, ternyata kesunyian kampung itu terus berlanjut ke siang hingga malamnya. Tidak terlihat aktifitas warga di siang hari. Mereka mungkin lebih suka menghabiskan waktunya di dalam rumah untuk tidur siang atau sekedar menonton televisi. Jalanan di sepanjang kampung itu tetap sepi walaupun pada sore hari. Tidak ada warga yang terlihat berjalan-jalan sore. Hanya terlihat kumpulan anak-anak muda yang sedang berkumpul di Poskamling, dan kumpulan anak-anak kecil yang bermain di lapangan samping sekolah mereka. Orang-orang tua tidak terlihat.

            Terdapat dua masjid di desa itu. Bahkan tidak terlalu jauh jarak antar masjid, namun tetap saja masjid tersebut sepi dari jemaahnya. Hanya beberapa orang terlihat shalat magrib di masjid itu. Bahkan di salah satu masjid yang letaknya agak ke dalam kampung, hampir tidak pernah disinggahi oleh warga. Desa yang begitu sepi, sunyi, dan tenang. Tidak banyak aktifitas Kukerta yang kami lakukan di desa itu. Kami lebih banyak melakukan program di Kelurahan yang cukup ramai warganya dalam beraktifitas di luar rumah. Bahkan sepinya kampung itu tetap bertahan walau hari kemerdekaan sampai memasuki bulan puasa bahkan hingga lebaranpun kampung itu tetap sepi.

            Hatiku terisis melihat seorang kakek yang berkulit kering dan kotor, seakan-akan beliau tidak pernah mandi berbulan-bulan lamanya. Tubuhnya bertemankan lalat setiap harinya. Setiap ku melewatinya, ku coba menahan bau pesing yang menyengat hidungku. Lelaki yang kurang fasih berbahasa Indonesia itu hanya bisa berbahasa jawa namun terkadang bahasanya cukup sulit kami pahami. Pendengarannya yang sedikit terganggu membuat kami sulit berkomunikasi dengan beliau.

            Beliau tinggal seorang diri di dalam rumah petak kecil tak berpintu. Terkadang setiap pagi ku dapati beliau hanya memakai baju tanpa pakaian bawah dan dalaman berjalan di sekitar rumahnya sambil memetik dedaunan untuk dia makan. Dia memakan daun mentah yang tumbuh di sekitar pekarangan rumahnya. Ku tahu seperti apa kelaparan yang ia derita setiap harinya sampai ia harus mengunyah daun mentah itu sebagai pengganjal rasa laparnya.

            Dengan kakinya yang renta, kulitnya yang kotor dan kering, wajahnya yang sayu, dan pakaiannya yang lusuh tidak pernah dicuci, ia berjalan-jalan kecil sekedar menikmati suasana desa yang sepi itu. Ia melihat kanan dan kiri berharap ia bisa meminta sesuap nasi dari mereka yang lewat, namun nihil yang ia dapat. Warga enggan mendekatinya karena bau busuk yang keluar dari tubuhnya itu.

            Ku mendengar kabar bahwa di masa lalu hidupnya, ia memiliki seorang istri dan seorang anak perempuan. Aku tidak tahu pasti mengapa istrinya meninggalkannya. Ku dengar kabar bahwa istrinya meninggalkannya karena penyakit menular yang dimilikinya. Sampai anak perempuannya yang telah menikahpun enggan mengurusinya. Beliau harus terus bertahan hidup seorang sendiri di desa sepi itu.

            Aku berharap, semoga beliau diberi perlindungan olehNya dan dibukakan pintu kebahagiaan. Amiin. Setidaknya, dengan perantauan ku yang hanya dua bulan itu banyak makna yang ku petik dari kehidupan orang-orang yang baru ku jumpai. Ternyata hidup di masyarakat banyak mengajarkan kita arti kehidupan seseungguhnya. Menghargai setiap rejeki yang diberikan Tuhan, karena masih banyak orang yang tidak seberuntung kita.

                                                                                                            .dreamerwhite.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar