DESA
NAN SEPI – KAMPUNG BARU
Foto anak-anak di kampung baru, bukit kapur
Untuk pertama kalinya aku
meninggalkan rumahku dalam kurun waktu cukup lama yaitu dua bulan lamanya untuk
menjalani salah satu kuliahku yaitu “Kuliah Kerja Nyata” yang selalu disingkat
Kukerta atau KKN. Kukerta menjadi salah satu keinginan ku sejak lama karena aku
ingin mencoba rasanya jauh dari orang tuaku. Aku tau itu keinginan yang aneh.
Tapi, sejak aku lahir hingga kuliah di semester 6, tidak pernah sekalipun aku
merantau ke kota orang dalam kurun waktu lama. Terkadang, aku iri melihat
temanku yang tumbuh mandiri di kota rantauan dengan menjadi anak kos
meninggalkan kedua orang tuanya berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun lamanya.
Aku ingin memiliki kebebasan seperti yang dirasakan teman-teman kuliahku, namun
tidak pernah ku dapatkan.
Kota Dumai menjadi salah satu tempat
pertamaku untuk belajar mandiri tanpa orang tua. Aku harus bisa mengatur diriku
di kota yang sebelumnya tidak pernah ku injaki itu. Kami berlimabelas orang
harus tinggal di sebuah kampung yang begitu sepi dari aktifitas. Tidak bisa
dikatakan sepi sebenarnya, karena rumah penduduk cukup berdekatan dan banyak.
Namun, penduduk yang jarang sekali keluar rumah atau sekedar berjalan-jalan sore
tidak pernah ku jumpai di kampung itu.
Setiap subuh mereka akan langsung
pergi ke kebun untuk bekerja. Pekerjaan rerata penduduk disana adalah berkebun
sawit atau karet. Jadi, wajar jika di pagi hari kampung itu sepi dari penduduk
walaupun banyak rumah disana. Ku pikir hanya di pagi hari, ternyata kesunyian
kampung itu terus berlanjut ke siang hingga malamnya. Tidak terlihat aktifitas
warga di siang hari. Mereka mungkin lebih suka menghabiskan waktunya di dalam
rumah untuk tidur siang atau sekedar menonton televisi. Jalanan di sepanjang
kampung itu tetap sepi walaupun pada sore hari. Tidak ada warga yang terlihat
berjalan-jalan sore. Hanya terlihat kumpulan anak-anak muda yang sedang
berkumpul di Poskamling, dan kumpulan anak-anak kecil yang bermain di lapangan
samping sekolah mereka. Orang-orang tua tidak terlihat.
Terdapat dua masjid di desa itu.
Bahkan tidak terlalu jauh jarak antar masjid, namun tetap saja masjid tersebut
sepi dari jemaahnya. Hanya beberapa orang terlihat shalat magrib di masjid itu.
Bahkan di salah satu masjid yang letaknya agak ke dalam kampung, hampir tidak
pernah disinggahi oleh warga. Desa yang begitu sepi, sunyi, dan tenang. Tidak
banyak aktifitas Kukerta yang kami lakukan di desa itu. Kami lebih banyak
melakukan program di Kelurahan yang cukup ramai warganya dalam beraktifitas di
luar rumah. Bahkan sepinya kampung itu tetap bertahan walau hari kemerdekaan
sampai memasuki bulan puasa bahkan hingga lebaranpun kampung itu tetap sepi.
Hatiku terisis melihat seorang kakek
yang berkulit kering dan kotor, seakan-akan beliau tidak pernah mandi
berbulan-bulan lamanya. Tubuhnya bertemankan lalat setiap harinya. Setiap ku
melewatinya, ku coba menahan bau pesing yang menyengat hidungku. Lelaki yang kurang
fasih berbahasa Indonesia itu hanya bisa berbahasa jawa namun terkadang
bahasanya cukup sulit kami pahami. Pendengarannya yang sedikit terganggu
membuat kami sulit berkomunikasi dengan beliau.
Beliau tinggal seorang diri di dalam
rumah petak kecil tak berpintu. Terkadang setiap pagi ku dapati beliau hanya
memakai baju tanpa pakaian bawah dan dalaman berjalan di sekitar rumahnya
sambil memetik dedaunan untuk dia makan. Dia memakan daun mentah yang tumbuh di
sekitar pekarangan rumahnya. Ku tahu seperti apa kelaparan yang ia derita
setiap harinya sampai ia harus mengunyah daun mentah itu sebagai pengganjal
rasa laparnya.
Dengan kakinya yang renta, kulitnya
yang kotor dan kering, wajahnya yang sayu, dan pakaiannya yang lusuh tidak
pernah dicuci, ia berjalan-jalan kecil sekedar menikmati suasana desa yang sepi
itu. Ia melihat kanan dan kiri berharap ia bisa meminta sesuap nasi dari mereka
yang lewat, namun nihil yang ia dapat. Warga enggan mendekatinya karena bau
busuk yang keluar dari tubuhnya itu.
Ku mendengar kabar bahwa di masa
lalu hidupnya, ia memiliki seorang istri dan seorang anak perempuan. Aku tidak
tahu pasti mengapa istrinya meninggalkannya. Ku dengar kabar bahwa istrinya
meninggalkannya karena penyakit menular yang dimilikinya. Sampai anak
perempuannya yang telah menikahpun enggan mengurusinya. Beliau harus terus
bertahan hidup seorang sendiri di desa sepi itu.
Aku berharap, semoga beliau diberi
perlindungan olehNya dan dibukakan pintu kebahagiaan. Amiin. Setidaknya, dengan
perantauan ku yang hanya dua bulan itu banyak makna yang ku petik dari
kehidupan orang-orang yang baru ku jumpai. Ternyata hidup di masyarakat banyak
mengajarkan kita arti kehidupan seseungguhnya. Menghargai setiap rejeki yang
diberikan Tuhan, karena masih banyak orang yang tidak seberuntung kita.
.dreamerwhite.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar